Follow us on:
-nikah mut'ah-



Nikah Mut'ah - Perzinaan Ajaran Agama Syi'ah

"AGAMA SYI'AH MENGHALALKAN ZINA"
Jika kaum muslimin memiliki pandangan bahwa pernikahan yang sah menurut syariat Islam merupakan jalan untuk menjaga kesucian harga diri mereka, maka kaum Syi’ah Rafidhah memiliki pandangan lain. Perzinaan justru memiliki kedudukan tersendiri di dalam kehidupan masyarakat mereka. Bagaimana tidak, perzinaan tersebut mereka kemas dengan nama agama yaitu nikah mut’ah. Tentu saja mereka tidak ridha kalau nikah mut’ah disejajarkan dengan perzinaan yang memang benar-benar diharamkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenyataan-lah yang akan membuktikan hakekat nikah mut’ah ala Syi’ah Rafidhah.

Definisi Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah adalah sebuah bentuk pernikahan yang dibatasi dengan perjanjian waktu dan upah tertentu tanpa memperhatikan perwalian dan saksi, untuk kemudian terjadi perceraian apabila telah habis masa kontraknya tanpa terkait hukum perceraian dan warisan. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi dengan beberapa tambahan)

Hukum Nikah Mut’ah

Pada awal tegaknya agama Islam nikah mut’ah diperbolehkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam beberapa sabdanya, di antaranya hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui kami kemudian mengizinkan kami untuk melakukan nikah mut’ah.” (HR. Muslim)

Al-Imam Al-Muzani rahimahullah berkata: “Telah sah bahwa nikah mut’ah dulu pernah diperbolehkan pada awal-awal Islam. Kemudian datang hadits-hadits yang shahih bahwa nikah tersebut tidak diperbolehkan lagi. Kesepakatan ulama telah menyatakan keharaman nikah tersebut.” (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1404 karya An-Nawawi)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya aku dulu pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Namun sekarang Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah tersebut sampai hari kiamat.” (HR. Muslim)

Adapun nikah mut’ah yang pernah dilakukan beberapa sahabat di zaman kekhalifahan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu, maka hal itu disebabkan mereka belum mendengar berita tentang diharamkannya nikah mut’ah selama-lamanya. (Syarh Shahih Muslim hadits no. 1405 karya An-Nawawi)

Gambaran Nikah Mut’ah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di dalam beberapa riwayat yang sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jelas sekali gambaran nikah mut’ah yang dulu pernah dilakukan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Gambaran tersebut dapat dirinci sebagai berikut:

1. Dilakukan pada saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat seperti perang, bukan ketika seseorang menetap pada suatu tempat. (HR. Muslim hadits no. 1404)

2. Tidak ada istri atau budak wanita yang ikut dalam perjalanan tersebut. (HR. Bukhari no. 5116 dan Muslim no. 1404)

3. Jangka waktu nikah mut’ah hanya 3 hari saja. (HR. Bukhari no. 5119 dan Muslim no. 1405)

4. Keadaan para pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah tersebut sebagaimana mendesaknya seorang muslim memakan bangkai, darah dan daging babi untuk mempertahankan hidupnya. (HR. Muslim no. 1406)

Nikah Mut’ah menurut Tinjauan Syi’ah Rafidhah

Dua kesalahan besar telah dilakukan kaum Syi’ah Rafidhah ketika memberikan tinjauan tentang nikah mut’ah. Dua kesalahan tersebut adalah:

A. Penghalalan Nikah Mut’ah yang Telah Diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya

Bentuk penghalalan mereka nampak dari kedudukan nikah mut’ah itu sendiri di kalangan mereka. Ash-Shaduq di dalam kitab Man Laa Yahdhuruhul Faqih dari Ash-Shadiq berkata: “Sesungguhnya nikah mut’ah itu adalah agamaku dan agama pendahuluku. Barangsiapa mengamalkannya maka dia telah mengamalkan agama kami. Sedangkan barangsiapa mengingkarinya maka dia telah mengingkari agama kami dan meyakini selain agama kami.”

Di dalam halaman yang sama, Ash-Shaduq mengatakan bahwa Abu Abdillah pernah ditanya: “Apakah nikah mut’ah itu memiliki pahala?” Maka beliau menjawab: “Bila dia mengharapkan wajah Allah (ikhlas), maka tidaklah dia membicarakan keutamaan nikah tersebut kecuali Allah tulis baginya satu kebaikan. Apabila dia mulai mendekatinya maka Allah ampuni dosanya. Apabila dia telah mandi (dari berjima’ ketika nikah mut’ah, pen) maka Allah ampuni dosanya sebanyak air yang mengalir pada rambutnya.”

Bahkan As-Sayyid Fathullah Al Kasyaani di dalam Tafsir Manhajish Shadiqiin 2/493 melecehkan kedudukan para imam mereka sendiri ketika berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa melakukan nikah mut’ah satu kali maka derajatnya seperti Al-Husain, barangsiapa melakukannya dua kali maka derajatnya seperti Al-Hasan, barangsiapa melakukannya tiga kali maka derajatnya seperti Ali radhiyallahu ‘anhu, dan barangsiapa melakukannya sebanyak empat kali maka derajatnya seperti aku.”

B. Betapa Keji dan Kotor Gambaran Nikah Mut’ah Ala Syi’ah Rafidhah

1. Akad nikah

Di dalam Al Furu’ Minal Kafi 5/455 karya Al-Kulaini, dia menyatakan bahwa Ja’far Ash-Shadiq pernah ditanya seseorang: “Apa yang aku katakan kepada dia (wanita yang akan dinikahi, pen) bila aku telah berduaan dengannya?” Maka beliau menjawab: “Engkau katakan: Aku menikahimu secara mut’ah berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, namun engkau tidak mendapatkan warisan dariku dan tidak pula memberikan warisan apapun kepadaku selama sehari atau setahun dengan upah senilai dirham demikian dan demikian.” Engkau sebutkan jumlah upah yang telah disepakati baik sedikit maupun banyak.” Apabila wanita tersebut mengatakan: “Ya” berarti dia telah ridha dan halal bagi si pria untuk menggaulinya. (Al-Mut’ah Wa Atsaruha Fil-Ishlahil Ijtima’i hal. 28-29 dan 31)

2. Tanpa disertai wali si wanita

Sebagaimana Ja’far Ash-Shadiq berkata: “Tidak apa-apa menikahi seorang wanita yang masih perawan bila dia ridha walaupun tanpa ijin kedua orang tuanya.” (Tahdzibul Ahkam 7/254)

3. Tanpa disertai saksi (Al-Furu’ Minal Kafi 5/249)

4. Dengan siapa saja nikah mut’ah boleh dilakukan?


Seorang pria boleh mengerjakan nikah mut’ah dengan :

- wanita Majusi. (Tahdzibul Ahkam 7/254)

- wanita Nashara dan Yahudi. (Kitabu Syara’i'il Islam hal. 184)

- wanita pelacur. (Tahdzibul Ahkam 7/253)

- wanita pezina. (Tahriirul Wasilah hal. 292 karya Al-Khumaini)

- wanita sepersusuan. (Tahriirul Wasilah 2/241 karya Al-Khumaini)

- wanita yang telah bersuami. (Tahdzibul Ahkam 7/253)

- istrinya sendiri atau budak wanitanya yang telah digauli. (Al-Ibtishar 3/144)

- wanita Hasyimiyah atau Ahlul Bait. (Tahdzibul Ahkam 7/272)

- sesama pria yang dikenal dengan homoseks. (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 54)


5. Batas usia wanita yang dimut’ah

Diperbolehkan bagi seorang pria untuk menjalani nikah mut’ah dengan seorang wanita walaupun masih berusia sepuluh tahun atau bahkan kurang dari itu. (Tahdzibul Ahkam 7/255 dan Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 37)

6. Jumlah wanita yang dimut’ah


Kaum Rafidhah mengatakan dengan dusta atas nama Abu Ja’far bahwa beliau membolehkan seorang pria menikah walaupun dengan seribu wanita karena wanita-wanita tersebut adalah wanita-wanita upahan. (Al-Ibtishar 3/147)

7. Nilai upah

Adapun nilai upah ketika melakukan nikah mut’ah telah diriwayatkan dari Abu Ja’far dan putranya, Ja’far yaitu sebesar satu dirham atau lebih, gandum, makanan pokok, tepung, tepung gandum, atau kurma sebanyak satu telapak tangan. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/457 dan Tahdzibul Ahkam 7/260)

8. Berapa kali seorang pria melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita?

Boleh bagi seorang pria untuk melakukan mut’ah dengan seorang wanita berkali-kali. (Al-Furu’ Minal Kafi 5/460-461)

9. Bolehkah seorang suami meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada orang lain?

Kaum Syi’ah Rafidhah membolehkan adanya perbuatan tersebut dengan dua model:

a. Bila seorang suami ingin bepergian, maka dia menitipkan istri atau budak wanitanya kepada tetangga, kawannya, atau siapa saja yang dia pilih. Dia membolehkan istri atau budak wanitanya tersebut diperlakukan sekehendaknya selama suami tadi bepergian. Alasannya agar istri atau budak wanitanya tersebut tidak berzina sehingga dia tenang selama di perjalanan!!!

b. Bila seseorang kedatangan tamu maka orang tersebut bisa meminjamkan istri atau budak wanitanya kepada tamu tersebut untuk diperlakukan sekehendaknya selama bertamu. Itu semua dalam rangka memuliakan tamu!!! (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 47)

10. Nikah mut’ah hanya berlaku bagi wanita-wanita awam.

Adapun wanita-wanita milik para pemimpin (sayyid) Syi’ah Rafidhah tidak boleh dinikahi secara mut’ah. (Lillahi Tsumma Lit-Tarikh hal. 37-38)

11. Diperbolehkan seorang pria menikahi seorang wanita bersama ibunya, saudara kandungnya, atau bibinya dalam keadaan pria tadi tidak mengetahui adanya hubungan kekerabatan di antara wanita tadi. (Lillahi… Tsumma Lit-Tarikh hal. 44)

12. Sebagaimana mereka membolehkan digaulinya seorang wanita oleh sekian orang pria secara bergiliran. Bahkan, di masa Al-’Allamah Al-Alusi ada pasar mut’ah, yang dipersiapkan padanya para wanita dengan didampingi para penjaganya (germo). (Lihat Kitab Shobbul Adzab hal. 239)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu Menentang Nikah Mut’ah

Para pembaca, bila kita renungkan secara seksama hakikat nikah mut’ah ini, maka tidaklah berbeda dengan praktek/transaksi yang terjadi di tempat-tempat lokalisasi. Oleh karena itu di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan tentang penentangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu –yang ditahbiskan kaum Syi’ah Rafidhah sebagai imam mereka- terhadap nikah mut’ah. Beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai piaraan pada saat perang Khaibar.” Beliau (Ali radhiyallahu ‘anhu) juga mengatakan bahwa hukum bolehnya nikah mut’ah telah dimansukh atau dihapus sebagaimana di dalam Shahih Al-Bukhari hadits no. 5119.

penganut syiah di indonesia juga banyak dan yayasan mereka juga menyebar dimana-mana, maka dari itu berhati-hatilah. Mengenai syiah secara ringkas, ukhti dpt membacanya melalui link berikut :

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=217038031684145&set=a.144058808982068.32660.100001338504700&type=3

yg lebih gilanya ulama syiah bernama ali al sistani membolehkan berjima dengan binatang.

http://www.forsanelhaq.com/showthread.php?t=122064.

dan video mut'ah nya si sistani dgn bnyk wanita juga tersebar melalui bluetooh, makin nampak kebobrokan syiah ketika dia bermut'ah dgn bnyk wanita.

syi'ah adalah agama tersendiri di luar Islam. Banyak pernyataan dari Ulama2 Besar Ahlus Sunnah yg menyatakan bahwasanya Syi'ah bukan ISLAM..

Syi'ah adalah ajaran yang sesat lagi menyesatkan. Diantara kesesatan ajaran mereka adalah menyatakan bahwa wanita dalam agama mereka (syi'ah) adalah senilai MAINAN.


Berikut ini pernyataan kitab2 dan boss2 mereka (syi'ah) tentang wanita :

Kulaini dalam Alkafi,

Volume 5 hal 510

عن أبي عبدالله (ع)قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله): إنما المرأة لعبة، من اتخذها فلا يضيعها. ج 5 ص 510


Dari abi Abdullah (as) yang berkata: Nabi (saw) mengatakan: ". Sesungguhnya wanita adalah mainan / boneka, jadi siapapun yang membawa mereka tidak perlu membuang-buang mereka" (Volume 5, Halaman 510)

عن أبي عبدالله (ع) قال: لا بأس أن ينام الرجل بين أمتين والحرتين، إنما نساؤكم بمنزلة اللعب. ج 5 ص 560


Dari Abi Abdullah (as) yang berkata: "Ini tidak bermasalah bahwa orang tidur antara gadis-gadis budak dan perempuan merdeka, memang wanita mirip dengan mainan." (Volume 5, Halaman 560)

عن عبدالملك بن عمرو قال: سألت أبا عبدالله (ع)مايحل للرجل من المرأة وهي حائض؟ قال: كل شئ غير الفرج، قال: ثم قال: إنما المرأة لعبة الرجل.ج 5 ص 539


Dari Abd al Malik b. Amru yang berkata: Saya bertanya aba Abdullah (seperti) apa yang halal (dibolehkan / hukum) untuk pria wanita itu sementara ia sedang menstruasi? Imam (as) berkata: ". Segala sesuatu selain furuj" Dia (narator) berkata: Lalu dia [Imam (as)] berkata: "Sesungguhnya wanita adalah mainan pria ." (Volume 5, Halaman 539)

وسائل الشيعة: ج 20 ص ح 167 ب 86 25324


Wasail al Syiah oleh Syaikh Hurr Al Amili (ra), Volume 20, Halaman 167, Pasal 86, Hadis no. 25324

عن أبي عبدالله (ع) قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وآله): إنما المرأة لعبة, من اتخذها فلا يضيعها


Dari abi Abdullah (as) yang berkata: Nabi (saw) mengatakan: ". Sesungguhnya wanita adalah mainan / boneka, jadi siapapun yang membawa mereka tidak perlu membuang-buang mereka"

----------

Lalu, masih adakah orang-orang yang menganggap syiah adalah bagian dari Islam??
Islam datang juga untuk memuliakan wanita. Bukan untuk menindas martabat wanita seperti syi'ah.

Na'udzubillahi minhum.

Semoga Allah membentengi aqidah kaum Muslimin dari kesesatan2 agama syi'ah..

Wallahul Musta'an.

http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2010/04/03/4692/akibat-nikah-mutah-wanita-syiah-mengidap-gonore/

http://www.facebook.com/notes/marhaban-ya-ramadhan/nikah-mutah-zinah/282233218460791?ref=nf

http://www.voa-islam.com/islamia/tsaqofah/2010/04/03/4692/akibat-nikah-mutah-wanita-syiah-mengidap-gonore/

http://www.facebook.com/notes/marhaban-ya-ramadhan/nikah-mutah-zinah/282233218460791?ref=nf

http://www.facebook.com/note.php?note_id=241765725867416

http://www.facebook.com/note.php?note_id=243457082364947

By Jaser Leonheart

Semoga bermanfaat

HIZBUT TAHRIR NEO-MU’TAZILAH


Ditulis pada Februari 12, 2008 oleh ibnuramadan

Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Dihadapan saya ada dua pertanyaan. keduanya bertemu pada satu titik. Yaitu tentang Hizbut Tahrir.

Pertanyaaan Pertama :
Saya telah membaca tentang Hizbut Tahrir dan saya mengagumi banyak pemikiran mereka. Kami menginginkan agar anda menerangkan atau memberi faidah kepada kami tentang sekelumit kelompok ini?

Pertanyaan Kedua:
Berbicara sekitar persoalan diatas, tetapi penanya meminta kepada saya penjelasan yang luas tentang Hizbut Tahrir. Tujuan-tujuan serta pemikiran-pemikirannya. Apakah dia menyimpang dalam hal aqidah ?

Sebagai jawaban dari dua pertanyaan ini , saya katakan:
Sesungguhnya kelompok atau perkumpulan Islam mana saja yang tidak tegak diatas kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wassalam serta diatas manhaj salafus shalih tentu ia dalam kesesatan yang nyata! tidak diragukan lagi, bahwa kelompok mana saja yang tidak tegak diatas tiga sumber ini akhirnya hanyalah kerugian belaka. Sekalipun sangat ikhlas ia dalam dakwahnya.

Pembahasan saya (Albani) sekarang ini, adalah tentang jama’ah-jama’ah islam yang seharusnya menjadi jama’ah yang ikhlas karena Allah saja, dan menjadi penasehat bagi umat. Sebagaimana telah datang penjelasannya dalam sebuah hadits shahih. Agama itu adalah nasehat kami bertanya: Bagi siapa wahai Rasulullah? beliau menjawab: Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin serta orang awamnya mereka [Riwayat Muslim dari hadits Tamim ad-Daari]

Yang demikian itu karena perkara ini adalah sebagimana yang difirmankan oleh Rabb kita dalm Al-Qur’an al-Karim:

“Artinya : Dan orang-orang yangb berjihad untuk (mencari keridhaan)Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami ” [Al-Ankabut :69]

Maka barangsiapa yang jihadnya karena Allah diatas kitabullah dan sunnah rasulullah serta diatas manhaj salafus shalih, niscaya orang yang demikian termasuk orang-orang yang dikatakan dalam firman Allah :

“Artinya : Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu” [Muhammad :7]

Jadi manhaj shalafus shalih ini merupakan pokok agung yang seharusnya setiap jama’ah Islam berada diatasnya dalam menegakkan dakwah. Berdasarkan pengetahuan saya terhadap semua jama’ah serta kelompok yang ada sekarang ini dinegeri-negeri Islam, maka akan saya katakan bahwa sesungguhnya mereka semuanya kecuali jama’ah yang satu (saya tidak mengatakan: “Kecuali (kelompok/hizb yang satu) karena jama’ah ini tidaklah bertahazub (berbuat hizbiyah) tidak pula berkumpul dan berfanatik kecuali kepada pokok-pokok yang telah disebutkan tadi yaitu Kitabullah, Sunnah Rasulullah dan Manhaj Salaf. Saya mengetahui dengan baik bahwasanya semua jama’ah selain jama’ah ini tidak menyeru kepada pokok yang ketiga, padahal (pokok itu) adalah asas yang kuat. Mereka hanya menyerukan (agar orang kembali) kepada al-Kitab dan Sunnah saja tanpa menyerukan keduanya (agar orang berpijak) kembali pada manhaj Saalafus Shalih. Dan sebenarnya akan menjadi terang bagi kita arti penting dari qaid (syarat pengikat) yang ketiga ini manakala kita perhatikan nash-nash syar’i yang berasal dari nabi, baik berupa kitab (al-Qur’an) maupun sunnah.

Dalam kenyataan, jama’ah-jama’ah Islam modern bahkan firqah-firqah Islam, dari sejak dimulainya penyimpangan diantara jama’ah-jama’ah Islam pertama yaitu sejak hari keluarnya Khawarij menentang Amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib dan sejak mulainya Al-Ja’ad bin Dirham berdakwah dengan dakwah mu’tazilah dan sejak munculnya firqah-firqah lain yang sudah dikenal nama-namanya semenjak dahulu namun yang sekarang diperbaharui nama-namanya dengan nama-nama yang baru. (kenyataan dari) semua firqah ini, baik firqah yang dahulu maupun yang sekarang, tidak terdapat satu firqah pun(diantaranya) yang mengatakan dan menyuarakan dia berada diatas manhaj salafus shalih.

Jalan yang Lurus

Firqah-firqah ini dengan segala perbedaan/perselisihan yang ada diantara mereka, baik dalam masalah hukum maupun furu’(cabang), mereka semua sama-sama mengatakan : Kami berada diatas (pijakan) Al-Kitab dan as-Sunnah” akan tetapi mereka berbeda dengan kita katakan yang mana perkara tersebut justru merupakan kesempurnaan dakwah kita. yaitu perkataan dan diatas manhaj shalafus shalih.

Berdasarkan kenyataan ini, siapakah yang akan menghukumi (manakah yang paling benar) diantara firqah-firqah ini. Yaitu firqah-firqah yang secara pengakuan dan secara dakwah paling tidak berintima’ (menisbatkan diri) kepada al-Kitab dan as-Sunnah? hukum apakah yang bisa digunakan untuk menentukan kata putus diantara mereka sedangkan mereka semuanya mengatakan diatas kalimat yang satu? jawabnya tidak ada jalan untuk menghukumi bahwa satu jama’ah diantara mereka itu berada diatas kebenaran (al-Haq) kecuali jika dia menisbatkan diri (intima’) kepada manhaj Shalafus shalih.

Disini, seperti yang dikatakan dizaman sekarang menjadi tanda tanya yang terlontar pada diri sendiri. Yaitu dari manakah kita mendatangkan kalimat tambahan :dan diatas manhaj salafus shalih ?

Jawabnya, sesungguhnya kita mendatangkannya dari kitabullah, sunnah Rasulullah dan dari apa yang ditempuh oleh para imam salaf, baik dari kalangan sahabat, tabi’in maupun pengikutnya yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah seperti halnya yang mereka katakan sekarang. Yang paling pertama adalah firman Allah :

“Artinya : Dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin kami biarkan dia leluasa dalam kesesatan yang telah menguasainya itu lalu Kami masukkan ia kedalam jahannam. dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” [An-Nisaa :115]

Firman Allah (pada ayat diatas) : Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, dihubungkan dengan firman Allah : Dan barangsiapa yang menentang Rasul, maka seandainya ayat ini berbunyi ; (Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, Kami biarkan dia leluasa dalam kesesatan yang telah menguasainya itu lalu Kami masukkan ia kedalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali) tanpa firman Allah (dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin) tentu ayat ini menunjukkan benarnya firqah-firqah yang dahulu maupun yang sekarang. Sebab mereka semua mengatakan: “Kami berjalan pada rel al-Kitab dan Sunnah”! sekalipun secara pengalaman mereka (sebenarnya) tidak berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena mereka tidak mengembalikan masalah-masalah yang mereka selisihkan kepada Al-Kitab dan Sunnah. Sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan:

“Artinya : Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah(Al-Qur’an) dan Rasul (sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih utama akibatnya” [An-Nisaa:59]

Jika anda mengajak salah seorang dari kebanyakan ulama dan dai-dai mereka (supaya kembali) kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya ia akan berkata : “aku hanyalah mengikuti madzhabku” Dimana orang ini mengatakan :”Madzhabku Hanafi”, sedangkan yang satu itu mengatakan “Madzhabku Syafi’i…” dan begitulah seterusnya. Mereka mendudukkan taqlid (sikap mengekor) mereka kepada imam-imamnya sama dengan kedudukan ittiba’ terhadap kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. dengan demikian apakah mereka berarti telah merealisasikan ayat ini ? tidak, sama sekali tidak.Berdasarkan kenyataan ini, lalu apakah gunanya pengakuan mereka bahwasanya mereka berada diatasa al-kitab dan as-sunnah selama secara amaliyah (pengamalan) mereka tidak merealisasikannya ?

Ini adalah contoh yang tidak saya maksudkan untuk orang-orang taqlid (awam). Tetapi yang saya maksudkan adalah para dai islam yang seharusnya tidak menjadi orang-orang taqlid yang lebih mendahulukan pendapat para imam yang tidak maksum daripada firman Allah dan sabda Rasul-Nya yang maksum. Dengan demikian tidaklah Allah menyebut kalimat itu ditengah-tengah ayat secara sia-sia, tetapi kalimat itu disebut untuk menanamkan suatu asas dan membuat suatu kaidah. Yaitu bahwa kita tidak boleh menyerahkan pemahaman Al-Kitab dan As- Sunnah kepada akal kita yang serba ketinggalan zaman dan (serba) terbelakang dalam pemahaman.

Kaum muslimain hanyalah benar-benar dikatakan mengerti mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah secara mendasar dan sesuai dengan kaidah, bila disamping berpegang pada Al-Kitab dan as-Sunnah juga berpegang pada apa yang ditempuh oleh salafus shalih. Sebab ayat ini mengandung nash bahwa kita wajib untuk tidak menyelisihi dan tidak menetang rasul. Sebagaimana juga mengandung ketentuan agar kita tidak menyelisishi jalannya kaum mukminin. Artinya kita wajib mengikuti (ittiba’ kepada) Rasul dan tidak menentangnya. Begitupula kita wajib mengikuti jalannya kaum mukminin dan tidak menyelisihinya. dari sinilah pertama-tama kami katakan, bahwa setiap kelompok atau setiap jama’ah islamiyah wajib melakukan pembetulan asas geraknya. yaitu dengan cara berpegang teguh kepada Al-Kitab dan Sunnah serta pemahaman Shalafus Shalih.

Tetapi sayang sekali ikatan syarat (yang terakhir) ini yakni (pemahaman salafus shalih) tidak diambil oleh hizbut tahrir, tidak pula oleh ikhwanul muslimin dan tidak pula oleh kelompok-kelompok Islam semisal mereka. Adapun kelompok-kelompok yang terang-terangan mengumumkan perang terhadap Islam seperti Partai Ba’ats dan Partai Komunis maka bukan disini sekarang pembicaraannya.

Jika demikian halnya, maka sepatutnya setiap muslim laki-laki dan perempuan mengetahui bahwa suatu garis jika sudah bengkok sejak dari pangkalnya maka garis bengkok itu akan semakin menjauh dari garis yang lurus. Setiap kali telapak kaki melangkah pasti langkahnya semakin bertambah menyimpang. Garis lurus itu adalah (garis) yang dikatakan oleh Allah Rabbul’ Alamin dalam Al-Qur’anul Karim :

“Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan ) ini adlah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya” [Al-An’am :153]

Ayat mulia ini jelas dan qathi’ dalalah (pasti penunjukannya)sebagimana yang menjadi kesukaan serta ciri khas Hizbut Tahrir diantara kelompok-kelompok yang ada dalam dakwahnya, risalah-risalahnya dan ceramah-ceramahnya. Dikatakan qathi’ dalalah, karena ayat itu menyatakan bahwa jalan yang dapat menyampaikan kepada Allah itu hanya satu. Sedangkan jalan-jalan lain adalah jalan-jalan yang akan menjauhkan kaum muslimin dari jalan Allah.

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia.Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (lain) karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya”[Al-An’am : 153]

Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah menambahkan penjelasan dan keterangan terhadap ayat ini . Karena memang demikianlah kedudukan sunnah beliau selamanya. Sebagaimana telah disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an ketika Dia berbicara kepada Nabi-Nya :

“Artinya : Dan Kami turunkan Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” [An-Nahl:44]

Sunnah Nabi shalallau alaihi wassalam merupakan penjelas yang sempurna bagi Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah pokoknya. Ia merupakan perundang-undangan bagi islam.Untuk lebih mendekatkan kejelasan permasalahannya bagi akal, saya terangkan (berikut ini).

Al-Qur’an, bila diibaratkan dengan sistem perundang-undangan buatan manusia, ibarat undang-undang dasarnya. Sedangkan As-Sunnah, bila diibaratkan dengan aturan-aturan buatan manusia, ibarat aturan yang menjelaskan undang-undang dasar tersebut. Oleh karena itu termasuk sesuatu yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin, bahwasanya tidak mungkin memahami Al-Qur’an tanpa penjelasan Rasulullah. Ini merupakan perkara yang telah disepakati. Tetapi sesuatu yang diperselisihkan oleh kaum muslimin dan (yang kemudian) pengaruhnya bermacam-macam setelah itu, ialah bahwa setiap firqah sesat zaman dahulu tidak melihat (mengangkat kepalanya pada) syarat pengikat yang ketiga yaitu ittiba’ (mengikut) kepada Salafus Shalih. Oleh sebab itulah mereka menyelisihi ayat yang telah saya sebutkan berulang-ulang tersebut yakni.

“Artinya : Dan mengikuti jalan selain kaum mukminin ” [An-Nisaa:115]

Akhirnya merekapun menyelisihi jalan Allah. Karena jalan Allah itu hanya satu, yaitu seperti yang disebutkan dalam ayat terdahulu ( yakni) :

“Artinya : Dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan, janganlah, kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan (lain) itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya” [Al-Anaam :153]


Saya (Syaikh Albani) katakan, bahwa sesungguhnya Nabi telah menambahkan keterangan dan penjelasan terhadap ayat ini ketika salah seorang sahabat beliau yang terkenal ilmu fiqihnya, yaitu Abdullah Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu meriwayatkan :

“Artinya : Suatu hari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam membuat sebuah garis dengan tangannya untuk kita ditanah dengan garis lurus. Kemudian beliau membuat garis disekitarnya dengan garis-garis pendek. Lalu beliau menunjuk garis yang lurus seraya membaca (firman Allah): Dan Bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Beliau sambil menggerakkan jarinya keatas garis yang lurus bersabda : Ini adalah jalan Allah , kemudian beliau menunjuk kegaris-garis yang pendek disekitarnya, lalu beliau bersabda: Ini adalah jalan-jalan yang pada setiap ujung pangkal jalan-jalan itu ada setan yang menyeru manusia menuju jalan-jalan tersebut†[Hadits ini melalui jalan periwayatan yang maknanya senada diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim dan Nasa’i dengan sanad yang baik]

Hadits ini ditafsirkan oleh hadits lainnya lagi yaitu hadits yang diriwayatkan oleh ahlu sunan (penyusun kitab-kitab sunan) seperti Abu Dawud, Tirmidzi, dan para imam hadits yang semisalnya melalui jalan periwayatan yang banyak dari sejumlah sahabat seperti Abu Hurairah, Mu’awiyah, Anas bin Malik, dan lainnya dengan sanad yang baik (jayyid) , bahwa Nabi bersabda :

“Artinya : (Kaum) Yahudi telah terpecah belah menjadi 71 kelompok (firqah). (kaum) Nasharani(kristen) telah berpecah belah menjadi 72 firqah. Dan umatku akan terpecah belah menjadi 73 firqah , semuanya di neraka kecuali satu. Lalu (para sahabat) bertanya : Siapakah dia wahai Rasulullah ? beliau menjawab ; Dia adalah apa yang aku dan sahabatku berada diatasnya”
Hadits ini menjelaskan kepada kita tentang jalannya kaum mukminin yang tersebut dalam ayat itu [An-Nisaa:115].

Siapakah gerangan orang-orang mukmin yang disebutkan dalam ayat tersebut? mereka adalah orang-orang yang telah disebutkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam hadits alfiraq (perpecahan) ketika beliau ditanya tentang kelompok yang selamat (al-Firqah an-Najiyah) tentang manhajnya, sifatnya dan pangkal geraknya. Maka beliau menjawab : “Apa yang aku dan sahabatku ada diatasnya”

Karena itu hal ini wajib mendapat perhatian! sebab jawaban Rasulullah tersebut jika bukan wahyu dari Allah, maka dia adalah tafsir dari Rasulullah terhadap “jalannya kaum muminin” yang disebutkan dalam firman Allah Azza wajalla tadi. Itulah yang dimaksud dengan ayat :

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jaln orang-orang mukmin…”

Allah telah menyebut Rasul dalam ayat tersebut dan telah menyebut pula jalannya orang mukmin.Sementara itu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah pula menyatakan tanda-tanda golongan yang selamat yang tidak termasuk dalam 72 golongan yang binasa. Yaitu bahwa (golongan yang selamat itu) adalah golongan yang berdiri diatas apa yang Rasul dan para sahabatnya ada diatasnya (yakni sejalan dengan pemahaman Rasul dan para sahabatnya).

Kita mengetahui benar, bahwa ketika Allah Azza wa Jalla berfirman kepada manusia, maka Dia hanyalah berbicara kepada orang-orang yang berakal, kepada para ulama dan kepada orang-orang yang berfikir. Akan tetapi kita (juga) mengetahui bahwa akal manusia berbeda-beda. Karena akal ada dua, akal muslim dan akal kafir. Akar kafir ini bukanlah akal. Karena akal menurut bahasa Arab adalah sesuatu yang mengikat dan mengendalikan pemiliknya dari kemungkinan terpeleset kekanan atau kekiri. Sementara itu tidak mungkin orang berakal tidak terpeleset kekanan atau kekiri, kecuali jika mengikuti Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam serta mengikatkannya dengan pemahaman salaf.


Oleh karena itu, Allah menceritakan pengakuan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik pada hari kiamat, bahwasanya mereka bukanlah orang-orang yang berakal. Allah ‘azza wajalla berfirman :

“Artinya : Dan mereka berkata: sekiranya kami mendengarkan atau menggunakan akal terhadap peringatan itu niscaya tidaklah kami menjadi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala ” [Al-Mulk:10]

Berdasarkan ayat diatas mereka mengakui bahwa ketika mereka berada dalam kehidupan dunia bukanlah orang-orang yang berakal. Padahal diantara mereka terdapat orang-orang cerdik pandai yang dapat mengetahui perkara yang tampak dari kehidupan dunia. Sebagaimana telah Allah sebutkan dalam kitab-Nya:

“Artinya : Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang kehidupan akhirat adalah lalai” [Ar-Ruum : 7]

Jika demikian berarti disana ada dua akal ; yaitu akal hakiki (akal yang sebenarnya) dan akal majazi (tidak hakiki). Akal hakiki adalah akal muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sedangkan akal majazi (tidak hakiki) adalah akalnya orang-orang kafir yang menyatakan pengakuannya :

“Artinya : Sekiranya kami mendengar atau memikirkan/berakal (terhadap peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala ” [Al Mulk:10]

Secara umum Allah juga telah berfirman tentang orang-orang kafir.

“Artinya : Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah” [Al-A’raaf :179]

Orang-orang kafir memiliki hati, tetapi mereka tidak berakal (berfikir) dengannya. Yakni mereka tidak mempergunakan hatinya untuk memahami kebenaran!

Maka setelah kita mengetahui hakikatnya, saya tidak menyangka ada perselisihan padanya. karena hal itu jelas dalam Al-Qur’an dan Hadits-hadits Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam.akan tetapi dari hakikat ini saya ingin sampai pada hakikat lain yang merupakan pembahasan dalam bukti-bukti dan dalil-dalil ini.

Jika akal orang kafir bukanlah akal, maka akal muslim juga terbagi menjadi dua. Akal seorang muslim yang ‘alim(berilmu) dan akal seorang muslim yang bodoh. Akal seorang muslim yang bodoh tidak mungkin sama pemahamannya dengan akal seorang muslilm yang berilmu (’alim) selamanya.Oleh karena itu Allah berfirman :

“Artinya : Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” [Al-Ankaabut :43]

Dia juga berfirman.

“Artinya : Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui” [An-Nahl:43]

Dengan demikian seorang muslim yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak boleh menetapkan akalnya sebagai sumber hukum. Tetapi dia (justru) harus menjadikan akalnya tunduk kepada firman Allah dan sabda Nabi-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Dari sini kita menemukan satu titik dalam dakwah Hizbut Tahrir. Bahwasanya mereka terpengaruh oleh Mu’tazilah dalam dasar pijaknya mengenai jalan (cara) keimanan (thariqul iman). Jalan keimanan (thariqul iman) ini adalah sebuah judul pembahasan mereka yang terdapat dalam kitab Nizham Al-Islam (aturan-aturan Islam) yang dikarang oleh pemimpin mereka yaitu : Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah.

Saya (Syaikh Nashiruddin Al-Bani) pernah berjumpa dengannya (Taqiyuddin An-Nabhani) beberapa kali. Saya mengenalnya dengan baik dan mengenal apa yang ditempuh oleh Hizbut Tahrir dengan sangat baik. Karena itu Insya Allah saya berbicara berdasarkan ilmu tentang segala hal yang dakwah mereka tegak diatasnya.

Inilah dia Point Pertama yang (harus) mereka tanggung, yaitu bahwa mereka menjadikan akal memiliki keistimewaan lebih dari yang semestinya. Disini akan saya ulas lagi, bahwa tidak berarti saya menafikan (meniadakan) kedudukan akal dalam islam. Tetapi saya hanya ingin menegaskan bahwa akal tidak memiliki hak untuk menjadi penentu bagi Al-Kitab dan As-Sunnah. Tetapi akal-lah yang wajib tunduk kepada (ketentuan) hukum Al-Kitab dan As-Sunnah serta berita-berita keduanya. Tidak lain kewajiban akal melainkan memahami segala hal yang dibawa al-Kitab dan as-Sunnah.


Dari sinilah kaum Mu’tazilah zaman dahulu menyimpang. Mereka mengingkari banyak sekali hakikat (kebenaran) yang besar karena mereka menjadikan akal berkuasa atas nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah. Lalu mereka mentahrif (merubah makna/lafal) nash-nash tersebut, mengganti dan menukar-nukar (makna)nya . Dengan bahasa ungkapan para Ulama Salaf, mereka menta’thil (menolak makna) nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah.

Ini adalah satu point yang saya ingin agar pembaca memperhatikannya. Yaitu bahwa semestinya akal seorang muslim itu tunduk kepada nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah serta kepada pemahaman keduanya. Maka yang menjadi pemutus perkara (hakim) adalah Allah dan Rasul-Nya. Bukan akal manusia yang menjadi hakim. Sebab berdasarkan apa yang telah kita sebutkan , bahwa akal manusia itu berbeda-beda. Ada akal muslim dan adapula akal kafir. Kemudian antara akal muslim yang berilmu dengan akal muslim yang bodoh juga berbeda. karenanyalah Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman,dan kiranya tidaklah mengapa kita mengulang-ulang dalil karena pembahasan ini sedikit sekali mengetuk telinga (pendengaran) banyak dari berjuta-juta kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan. Karena itulah saya terpaksa mengulang-ulang point-point dan dalil-dalil ini. Diantaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

“Artinya : Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”[Al-Ankaabut : 43]

Disini kita berhenti sebentar (dan bertanya) siapakah orang-orang yang berilmu itu? adakah mereka para ulama kafir? sama sekali bukan ! kita tidak menghargai mereka, sebab mereka bukan orang-orang yang berakal. Karena pada hakikatnya mereka hanyalah orang-orang yang memiliki kecerdasan berhubung mereka telah menciptakan, membuat dan telah mencapai kemajuan materi yang sudah dikenal semua orang. Demikian juga akal (yang ada) pada kaum muslimin. Akal ini tidaklah sama, akal orang yang berilmu tidak sama dengan akal orang bodoh. Dan akan saya kemukakan lagi sesuatu yang lain, yaitu bahwa akal orang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya tidak akan sama dengan orang yang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya. Oleh karena itu kaum Mu’tazilah telah menyimpang dalam banyak landasan/asas yang mereka tetapkan menyelisihi jalan syariat, baik Al-Kitab , As-Sunnah maupun manhaj Salafus Shalih. Inilah point pertama , yaitu penyandaran Hizbut Tahrir kepada akal lebih dari yang semestinya.

Point Kedua : Apa yang menurut saya merupakan cabang dari point pertama, yaitu bahwa mereka membagi nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah menjadi dua bagian. Dari segi periwayatannya dan dari segi dalalah (penunjukannya). Adapun dari segi periwayatannya, mereka berkata bahwa riwayat Qath’iyatu ats-tsubut (jelas dan pasti sumbernya dari Nabi shalallahu’alaihi wassalam) dan ada kalanya Zhanniyatu ats-tsubut (masih belum jelas apakah benar sumbernya dari Nabi shalallahu alaihi wassalam) . Sedangkan dari segi dalalah (penunjukannya) juga demikian. Adakalnya Qath’iyau ad-Dalalah (pasti dan jelas penunjukannya) dan adakalanya Zhanniyatu ad-Dalalah (masih belum jelas penunjukannya).

Kita tidak akan memperdebatkan istilah-istilah ini karena hal ini sebagaimana dikatakan tidak perlu dipermasalahkan. Tetapi yang kami perdebatkan adalah bilamana mereka menggiring (maksud) istilah ini menuju hal-hal yang menyimpang yang menyelisihi pemahaman kaum muslimin generasi pertama.
Dari sinilah akan tampak nyata bagi semua orang tentang arti penting Sabilul Mu’minin (jalannya kaum mukminin), sebab sabilul mu’minin ini merupakan pengikat yang dapat mencegah terpelesetnya seorang ‘alim yang muslim, apalagi yang bodoh, dari nash Al-Qur’an dan As-Sunnah bila dia merujuk kepada istilah yang semisal diatas yang tidak boleh jika membuahkan hasil-hasil berikut ini. Yaitu bahwa mereka telah menggiring peristilahan tersebut menuju hal berikut.

Kata mereka, bahwa apabila datang suatu nash dalam Al-Qur’an dan nash tersebut tidak diragukan lagi menurut istilah yang telah disebutkan terdahulu disebut Qath’iyatu ats-tsubut tetapi Zanniyatu ad-Dalalah, maka seorang muslim tidak wajib berpegang kepada makna yang terkandung didalamnya.Karena dia Zhanniyatu ad-Dalalah.

Dengan demikian (menurut mereka) tidak boleh bagi seorang muslim untuk membangun aqidahnya berdasarkan nash yang Qath’iyatu ats-Tsubut tetapi Zhanniyatu ad-Dalalah.

Begitu juga sebaliknya, jika datang suatu dalil yang Qath’iyatu ad-Dalalah tetapi tidak Qath’iyatu ats-Tsubut seperti keadaan pada umumnya hadits-hadits Nabi, maka mereka tidak mau mengambilnya sebagai sandaran aqidah.
Dari sinilah kemudian mereka datang dengan membawa aqidah baru yang tidak pernah dikenal oleh Slafus Shalih. Mereka membuat istilah-istilah khusus bagi mereka. Buku-buku mereka yang memuat permasalahan ini cukup dikenal. Yang saya maksudkan adalah buku-bukuk mereka terdahulu. Sebab (sekarang) mereka telah melakukan pelurusan-pelurusan didalamnya. Dalam hal ini saya termasuk orang yang paling tahu tentang adanya pelurusan-pelurusan ini. Akan tetapi dalam kenyataannya hanya pelurusan semu saja, kalaupun betul kita akui adanya pelurusan itu. Namun hal tersebut hanyalah menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang bingung, hingga dalam aqidahnya.

Sebab mereka (tetap saja) mengatakan bahwa aqidah tidak (bisa) tegak kecuali berdasarkan dalil yang qath’iyatu ats-tsubut dan qath’iyatu ad-dalalah. Yaitu bahwa hadits shahih secara riwayat dan qath’i (pasti) secara dalalah (penunjukannya), tidak bisa dijadikan sebagai sandaran aqidah. Karenanya, kita katakan kepada mereka sebagai debat dan bantahan kita terhadap mereka : “Aqidah (keyakinan) ini kamu ambil dari mana ? Mana dalil yang menunjuk-kan tidak bolehnya seorang muslim mendasarkan aqidahnya pada hadits shahih atau nash yang tidak mencapai derajat mutawatir dan tidak pula qath’iyatu ad-dalalah? Darimanakah anda mendatangkan kaidah tersebut ?”
Ternyata mereka rancu dalam menjawabnya. Pembahasan mengenai ini panjang sekali. mereka berdalil dengan semisal firman Allah subhanahu wata’aala :

“Artinya : Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka” [An-Najm :23]

Dan firman-Nya.

“Artinya : Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaidah sedikitpun terhadap kebenaran”[An-Najm :28]


Namun pembahasan seperti ini akan ,mengeluarkan kita dari pembahsan yang semestinya mengenai apa yang kita ketahui tentang Hizbut Tahrir. Karena diskusi mengenai kaidah ini dan penjelasan tentang hal-hal yang ada padanya akan selalu mendapatkan bantahan-bantahan. Disamping diskusi itu hanya akan ditegakkan berdasarkan argumen yang hakikatnya seperti fatamorgana yang disangka air oleh orang yang kehausan.[1]

Oleh karena itu, kita cukupkan (pembahasannya) pada keterangan yang telah kita kemukakan (diatas) perihal kaidah mereka yang sesat. Yaitu yang berbunyi bahwa :

“Tidak boleh seorang muslim membangun aqidahnya berdasarkan hadits shahih yang tidak Qath’iyatu ats-Tsubut walaupun Qath’iyatu ad-Dalalah”
Darimanakah mereka dapatkan ini ? sama sekali tidak ada dalilnya bagi mereka, baik dari Al-Qur’an , as-Sunnah maupun dari pemahaman Salafus Shalih. Bahkan pemahaman Salaf menentang hal ini !.

Pemikiran ini sesungguhnya dibangun oleh sebagian kelompok khalaf (kelompok yang tidak berfaham salaf) dari kalangan Mu’tazilah terdahulu beserta pengikutnya dizaman sekarang. Paling tidak dalam hal aqidah. Mereka itu adalah hizbut Tahrir.

Saya katakan, bahwa setiap kita mengetahui sesungguhnya ketika Allah mengutus beliau shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai pemberi kabar gembira serta pembawa peringatan , berfirman padanya:

“Artinya : Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu. Dan, jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya , Allah memelihara kamu dari gangguan manusia ” [Al-Maidah: 67]

Maka penyampaian beliau terhadap risalah-Nya kepada manusia, kadang-kadang beliau sampaikan sendiri dengan menghadiri pertemuan-pertemuan dan perkumpulan-perkumpulan mereka.Beliau berbicara secara langsung kepada mereka. Tetapi kadang-kadang beliau mengutus seorang utusan untuk mengajak orang-orang musyrik agar mengikuti dakwah Nabi. Dan kadang-kadang pula beliau hanya berkirim surat, sebagaimana telah diketahui berdasarkan sejarah, (misalnya-red). Kepada Hiraqlius raja Romawi, kepada Kisra raja Persia, kepada Muqauqis dan kepada pemimpin-pemimpin Arab, sebagaimana telah dijelaskan dalam buku-buku sejarah.

Dan termasuk yang pernah beliau lakukan, ialah mengutus Mu’adz bin Jabal, Abu Musa Al-Asy’ary dan Ali bin Abi Thalib ke Yaman. Beliau juga mengutus Dihyah al-Kalby ke Romawi. Mereka semuanya adalah individu-individu yang khabar (pemberitaan / periwayatan)-nya menurut kaidah hizbut Tahrir diatas, tidak berfungsi sebagai khabar (pemberitaan/periwayatan) yang qathi’ (pasti) sebab mereka adalah individu-individu (sendiri-sendiri). Mu’adz bin Jabal (di Yaman-red) berada disatu tempat, Abu Musa disatu tempat yang lain, dan Ali ditempat yang lain lagi. Bisa jadi pula waktunya berbeda.

Disana ada sebuah hadits dalam shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Beliau berdua mengeluarkan hadits shahih tersebut dengan sanad yang shahih :

“Artinya : Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam ketika mengutus Mu’adz ke Yaman beliau bersabda kepadanya : Jadikanlah yang pertama engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illallah (tidak ada yang berhak diibadati dengan benar kecuali Allah….” [Al-Hadits]

Siapakah orang Islam yang ragu bahwa syahadat ini merupakan asa/pokok pertama? artinya sebagai (asas) aqidah pertama yang diatasnya dibangun keimanan kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya? sesungguhnya Mu’adz telah pergi sendirian saja sebagai penyampai dan juru dakwah yang menyeru kaum musyrikin agar mereka beriman kepada agama Islam.

Anda lihat apakah hujjah sudah (cukup) tegak dengan Mu’adz manakala beliau mengajak kaum musyrikin untuk masuk islam dan memerintahkan mereka agar menegakkan shalat lima waktu dalam sehari semalam. yaitu shalat yang terdiri dari dua, empat, dan tiga raka’at sampai kepada rincian-rinciannya yang sudah kita ketahui bersama-alhamdulillah-? Beliau juga memerintahkan mereka untuk mengeluarkan dari harta zakat yang berhubungan dengan emas, perak, buah-buahan, sapi, onta dan lain-lainnya.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah sudah (cukup) tegak hujjah islam bagi kaum musyrikin dengan hanya diutusnya Mu’adz bin Jabal sendirian ? (tentu) menurut madzhab Hizbut Tahrir- dengan amat menyesal- hujjah belum tegak. sebab Mu’adz hanya seorang diri hingga bisa dimungkinkan untuk berdusta seperti menurut perkataan mereka?! Apabila kita katakan bahwa kedustaan itu terlalu jauh dari Mu’adz, tetapi (menurut Hizbuta Tahrir-red) tidak akan kurang dari kemungkian untuk dikatakan bahwa boleh jadi beliau berbuat salah atau lupa.

Sesungguhnya mereka telah datang membawa sebuah filsafat, bahwa kita tidak boleh mengambil aqidah islamiyah dari hadits shahih. Kalau begitu orang-orang Yaman ketika diseu oleh Muadz untuk beraqidah , berarti hujjah belum tegak bagi mereka, karena beliau sendirian saja (dalam menyampaikan islam). Padahal diantara orang-orang Yaman itu ada yang penyembah berhala, ada yang Nasrani dan ada pula yang majusi. Menurut kaidah Hizbut Tahrir ini, hujjah dalam masalah aqidah belum tegak bagi mereka ?!

Adapun dalam masalah hukum fiqih Hizbut Tahrir berpandangan seperti pendapat umumnya kaum muslimin. (Yaitu bahwa) dengan hadits ahad (hadits yang tidak mutawatir-red). Bisa ditetapkan hukum-hukum syariat. Sedangkan masalah aqidah (menurut Hizbut Tahrir) tidak dapat ditetapkan dengan hadits ahad ?!

Inilah Mu’adz. Beliau menjalankan gambaran aqidah ahad dalam Islam secara menyeluruh, baik dalam hal ushul(pokok) maupun furu’ (cabang) dalam masalah i’tiqad(aqidah) maupun hukum ( fiqh ). Dengan demikian , dari mana mereka datang dengan membawa pemilahan-pemilahan tersebut?


DA’I HIZBUT TAHRIR DIPERMALUKAN MUSLIMIN JEPANG

Ada salah seorang diantara mereka menyebutkan bahwa seorang da’i Hizbut tahrir pergi ke Jepang. ia menyampaikan serentetan ceramah kepada mereka. Diantara ceramah yang disampaikannya adalah tentang jalan iman. Diantara isi ceramahnya, bahwa masalah aqidah tidak bisa ditetapkan berdasarkan hadits ahad. Ternyata disana , ditengah hadirin ada seorang pemuda yang berakal, cerdik dan pandai. Ia berkata kepada penceramah itu :

“Wahai ustadz.., anda datang sebagai da’i ke Jepang. Sebuah negeri syirik dan kufur. Sebagaimana anda katakan, bahwa anda datang dalam rangka berdakwah agar mereka (masyarakat Jepang) masuk islam. Anda mengatakan kepada mereka bahwa Islam menyatakan sesungguhnya aqidah tidak bisa ditetapkan berdasarkan khabar ahad (pemberitaan satu orang). Anda juga berkata kepada kami bahwa termasuk perkara aqidah ialah agar jangan mengambil aqidah dari berita satu orang individu. Anda sekarang menyeru kami agar menerima Islam, padahal anda seorang diri. Maka berdasarkan filsafat anda ini, sebaiknya anda pulang saja kenegeri anda, lalu bawalah (kemari) puluhan orang Islam seperti anda yang semuanya mengutarakan pernyataan seperti pernyataan anda. dengan demikian khabar(berita) anda menjadi mutawatir!!

Demikianlah pemuda itu menjatuhkan penceramah tersebut. ini hanyalah satu diantara banyak contoh yang membuktikan akibat buruk bagi siapa saja yang menyelisihi manhaj Salafus Shalih.

Ada sebuah hadist dalam shahih Bukhari dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shalallahualaihi wassalam bersabda:

“Artinya : Jika seseorang diantara kamu duduk dalam tasyahud akhir, hendaklah ia berlindung dari empat perkara. (hendaknya) ia mengucapkan doa (artinya): ya, Allah sesungguhnya aku berlindung diri kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam , dari siksa kubur, dari fitnah ketika hidup dan mati, dan dari fitnah al-masih ad-Dajjal. [Hadits senada juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i dengan sanad yang shahih]”

Hadits diatas termasuk jenis hadist ahad, tetapi ia adalah hadits yang termasuk aneh dan asing menurut filsafatnya Hizbut Tahrir. Sebab dari satu sisi mengandung hukum syar’i. Hukum syar’i menurut mereka (dapat) tertetapkan berdasarkan hadits ahad. Namun, disisi lain mengandung aqidah karena disana ada azab kubur dan ada fitnah Dajjal. Padahal mereka tidak mengimani siksa kubur dan tidak pula mengimani fitnah Dajjal akbar yang kisahnya telah diceritakan oleh Rasulullah dalam banyak hadits. Diantaranya adalah sabda beliau:

“Artinya : Tidak ada satu fitnahpun sejak diciptaknnya Adam hingga hari kiamat yang lebih berbahaya dari fitnah Dajjal” [Riwayat Ahmad, Muslim, dan Al-Hakim]

Mereka Hizbut Tahrir tidak mengimani (bakal munculnya) Dajjal ini, karena menurut anggapan mereka hadits tersebut bukanlah hadits mutawatir. Maka sekarang kita katakan kepada mereka:

“Apa yang bisa kalian lakukan terhadap hadits Abu Hurairah (sebelumnya) yang disatu sisi mengandung hukum syar’i (yaitu disyariatkannya membaca doa tersebut diakhir shalat-red) Dengan demikian kalian harus mengucapkan doa pada akhir shalat :

“Aku berlindung diri kepada-Mu dari azab kubur”

Tetapi mungkinkah kalian meminta perlindungan diri dari azab kubur sedangkan kalian tidak mengimani adanya azab kubur ?

Dua hal yang saling berlawanan tidak mungkin dapat berkumpul. Namun, kemudian mereka datang kepada kita dengan kilah-kilah yang sesungguhnya dilarang Allah. Mereka mengatakan :”Bahwa kami membenarkan azab kubur tetapi kami tidak mengimaninya?!”

(Ini jelas) filsafat yang aneh sekali. Mengapa mereka jadi begini ? sesungguhnya mereka telah datang membawa filsafat pertama, kemudian mereka terperangkap secara sambung-menyambung kedalam banyak filasafat. akhirnya dengan filsafat-filsafat itu mereka keluar dari jalan lurus yang pernah ditempuh para sahabat Nabi shalallahu’alaihi wassalam. Sementara itu hadits tersebut sebagaimana telah dijelaskan adalah panjang penjelasannya.

Sesungguhnya diantara dakwah Hizbut Tahrir yang selalu mereka kumandangkan adalah bahwa mereka ingin menegakkan hukum Allah dimuka bumi. Saya hendak mengingatkan bahwa Hizbut Tahrir tidak sendirian dalam tujuan ini. Semua jama’ah dan kelompok-kelompok Islam pada akhirnya adalah bertujuan sama yaitu ingin menegakkan hukum Allah dimuka bumi.

Tetapi pertanyaannya adalah apakah kelompok-kelompok Islam ini-yang diantaranya adalah Hizbut Tahrir- berada pada jalan Allah yang lurus seperti yang pernah ditempuh Nabi dan para sahabatnya ? jawabnya ialah sebagaimana yang selalu kami isyartakan dalam syair:

“Semua mengaku punya hubungan dengan Laila, Tetapi Laila tidak mengakuinya”
Tidak seorangpun dalam jama’ah ini yang mengikatkan pemahamannya terhadap Islam dengan pengikat yang kami sebutkan ini, yaitu Pemahaman salafus shalih. Karena itulah mereka jauh dari pertolongan Allah. Sebab Allah hanya akan menolong orang yang menolong agamaNya. Jalan pertolongan Allah adalah ittiba’(mengikuti) Kitab Allah, Sunnah Nabi-Nya dan jalannya orang-orang mukmin. Syarat inilah yang dilupakan oleh firqah-firqah terdahulu maupun oleh golongan-golongan (hizb-hizb) modern sekarang ini, termasuk didalamnya Hizbut Tahrir yang pemikiran-pemikirannya menyimpang dalam aqidah.

Karenanya kami ulangi lagi apa yang kami kemukakan pada permulaan tulisan ini. yaitu bahwa:Jama’ah manapun yang aqidah serta manhajnya tidak berpijak pada pemahaman salafus Shalih, maka jama’ah itu tidak akan dapat menegakkan islam. Baik itu Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, atau jama’ah lain manapun. Sebab mereka tidak menegakkan dakwahnya pada pokok-pokok (landasan-landasan) yang tiga yaitu :Kitab Allah, sunnah rasulullah yang shahih dan Manhaj Salafus Shalih….!!!

Kiranya cukuplah (pembahasan-red) sampai disini saja. dan ini adalah peringatan. mudah-mudahan bermanfaat bagi kaum mukminin.

wallahu’alam bishawwab walhamdulillahirabbil’aalamin.

[Diterjemahkan dari Hizbut Tahrir Mu’tazilatul Judud, edisi Indonesia Hizbut Tahrir Neo Mu’tazilah, Dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 3/Th. III/1418-1997. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo]copyleft almanhaj.or.id


Beginilah Cara Hizbut Tahrir Memahami Islam
(oleh Abu Namira Hasna Al-Jauziyah)

Benar sekali apa yang dikatakan Muhaddits abad ini, Syaikh Muhammad Nasaruddin Al-Albani, bahwa Hizbut Tahrir adalah Mutazilah gaya baru. ana akan nukil lengkap(sesuai aslinya, tanpa mengubah sedikitpun)tulisan Syamsuddin Ramadhan(Lajnah Tsaqofiyah Hizbut Tahrir Indonesia) yang merupakan tokoh Hizbut Tahrir Indonesia. ana akan warnai tulisan yang menandakan bahwa Hizbut Tahrir memahami Islam dengan akal dengan warna merah, ditebali dan garisbawahi. sumber ini, ana ambil di :Di sini!!! Hati-hati terhadap situs ini, karena penuh Syubhat dan kedustaan.

Perhatian : Kedudukan Akal menurut Islam yang benar sesuai dengan pemahaman Salafusholeh, bisa buka di :Kedudukan Akal Dalam Islam

Soal:

Bagaimana kedudukan akal dalam Islam? Apakah akal tunduk kepada wahyu atau sebaliknya?

Jawab:

Pada dasarnya, akal merupakan asas untuk (1) membuktikan kebenaran Islam, dan (2) untuk memahami ajaran Islam, serta semua hal yang berhubungan dengan Islam.

Pertama, jika semesta pembicaraannya adalah akal sebagai alat untuk membuktikan keabsahan Islam sebagai agama, maka kita bisa menyatakan bahwa peran akal di sini berfungsi sebagai dalil (alat bukti). Misalnya, keimanan seorang muslim terhadap eksistensi Allah, Muhammad Utusan Allah, serta al-Qur’an sebagai kalamullah didasarkan pada dalil ‘aqliy. Artinya, akal sebagai dalil untuk membuktikan apakah Allah SWT itu eksis atau tidak, al-Qur’an itu kalamullah atau tidak, dan Muhammad itu utusan Allah atau bukan. Dalam tiga hal ini, Islam telah menggariskan bahwa akal berfungsi sebagai dalil atau alat untuk menguji ketiganya. Keimanan terhadap eksistensi Allah, al-Qur’an sebagai kalamullah, dan Mohammad sebagai utusan Allah, adalah fundamen paling mendasar yang akan membangun keseluruhan ajaran Islam. Sedangkan ketiga hal mendasar ini dibangun di atas pembuktian akal. Berarti, Islam adalah ajaran yang disangga di atas akal.

‘Aqidah dan Syariah

Keimanan terhadap eksistensi Allah
* Keimanan terhadap Muhammad sebagai utusan Allah
* Keimanan terhadap al-Qur’an sebagai Kalamullah

Akal (sebagai alat bukti)
Namun demikian, ini tidak berarti bahwa kedudukan akal di atas wahyu. Tidak boleh dipahami demikian. Peran akal di sini hanyalah sebagai alat untuk membuktikan kebenaran dan keshahihan ajaran Islam. Setelah, terbukti bahwa Allah itu eksis, Muhammad itu benar-benar utusan Allah, dan al-Qur’an adalah kalamullah, akal bisa menetapkan, bahwa semua hal yang terkandung di dalam al-Qur’an merupakan kebenaran yang tidak bisa disanggah lagi. Semua yang terkandung di dalam al-Quran mesti diyakini kebenarannya dan diamalkan oleh seluruh kaum muslim. Misalnya, keyakinan terhadap jin, malaikat, dan hari akhir tidak lagi didasarkan pada akal, akan tetapi didasarkan pada dalil naqliy yang telah dibuktikan kebenarannya melalui jalan akal, yakni al-Qur’an dan sunnah mutawatir. Setiap muslim harus tunduk dengan apa yang dibawa oleh Muhammad Saw. Akalnya harus tunduk dan menerima dengan pasrah semua perkara yang dibawa oleh Muhammad Saw, meskipun itu bertentangan dengan akalnya. Akal tidak bisa menjangkau, mengapa Allah SWT menciptakan surga, mengapa sholat mesti lima waktu dan seterusnya. Dalam perkara semacam ini, akal mesti tunduk di bawah wahyu, akalnya tidak boleh didudukkan sejajar atau lebih tinggi dibandingkan wahyu.

Kedua, adapun peran akal yang kedua adalah memahami wahyu (ajaran Islam) dan semua hal yang berhubungan dengannya. Tatkala seorang telah percaya kepada al-Qur’an dan Nabi Saw, maka ia dituntut untuk melaksanakan semua yang terkandung di dalamnya. Kewajiban untuk melaksanakan kandungan isi al-Qur’an mengharuskan seseorang untuk memahami teks-teks al-Qur’an serta semua hal yang berhubungan dengannya; misalnya memahami fakta yang hendak dihukumi dan sebagainya. Misalnya, seseorang tidak mungkin bisa mengerjakan sholat lima waktu sesuai dengan sunnah, jika ia tidak memahami dengan akalnya tatacara sholat yang telah digariskan oleh Rasulullah Saw. Seorang muslim juga tidak akan bisa menghukumi dengan tepat status suatu perbuatan atau benda jika ia tidak memahami secara rinci fakta dari perbuatan dan benda tersebut.

Demikianlah, kedudukan akal tidak lebih hanyalah sekadar sebagai alat pembukti dan alat untuk memahami wahyu. Pembuktian terhadap eksistensi Allah, Muhammad utusan Allah, dan al-Qur’an sebagai kalamullah, didasarkan pada akal. Sedangkan, penetapan hukum atas suatu perbuatan dan benda —yang dikaitkan dengan halal haram— harus didasarkan pada wahyu, bukan akal. Akal hanya berfungsi untuk memahami, bukan berkedudukan sebagai dalil. Dalilnya tetap al-Qur’an dan sunnah, sedangkan akal hanya berfungsi untuk memahami dalil dan fakta yang hendak dihukumi.Wallahu a’lam bi al-shawab.
[Syamsuddin Ramadhan] Lajnah Tsaqofiyah Hizbut Tahrir Indonesia

Di Gabungkan oleh : Abu Namira Hasna Al-Jauziyah

untuk :Maktanah Online Abu Namira Hasna Al-Jauziyah
http://abunamira.wordpress.com/2011/12/06/beginilah-cara-hizbut-tahrir-memahami-islam/

***

Ini adalah jeritan Ahlus Sunnah yang tengah disiksa oleh para syiah di iraq.


[Air Mata Ahlus Sunnah di Iraq]
Wahai Saudara-saudaraku Kaum Muslimin...
Aku memanggilmu dari Baghdad...
Aku memanggilmu.... Oh Baghdad, kejahatan apa yang menangkapmu....

Masihkah ada nilai dari Baghdad....
Apakah kebahagiaan telah hilang dari matamu wahai baghdad....

Wahai Kaum Muslimin....
Aku memanggilmu dari Iraq....
Wahai saudara-saudaraku,, adakah disana air mata yang turut menangis dan berduka kepada baghdad ???
saya berharap saya bisa membantu orang-orang yang dalam kesedihan dan memukuli dada mereka karena menjadi buruk disiksa....
Ribuan Saudara Ahlus Sunnah disini mendatangi kami baik perempuan maupun laki2...
Dan mereka memberi saya tanggung jawab untuk menyampaikan kenyataan ini.....
Orang2 syiah yg jahat itu mengancam akan membunuh setiap Muslim Ahlus Sunnah lalu siapa yang akan menolong kami ?

Siapa yang akan melindungi kami dari kekejaman dan penyiksaan mereka ??
Istri kami dipenjara....
Saudara-saudara Ahlus Sunnah DIBUNUH.....!!!!
AHHH.... Ya ALLAH.... Ya ALLAH.....
AHLUS SUNNAH DISIKSA....DICAMBUK....DILEMPARKAN HINGGA DIBAKAR.....!!!!
AKU PUN TURUT DISIKSA....!!!!

Karena mereka memaksa kami untuk menghina Ibunda Kaum Mukminin Aisyah Radhiyallahu 'Anha.... dan ayahnya Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu....

Ya ALLAH.... Ya ALLAH.....

Kepada siapa dan di bumi mana aku harus hidup.......
Mereka melemparkan kotoran ke wajahku...
Oh Ahlus Sunnah..... Selamatkanlah saudara-saudaramu dari kekejaman syiah disini...!!!

Ya ALLAH.... Ya ALLAH......
Wahai Penolong-penolong Islam....
Istri dan puteri kami diculik.....
Kaum Ahlus Sunnah dihadang di jalan dan dibakar hidup-hidup.....

Karena diantara kami juga memiliki nama Abu Bakr, Umar, dan Utsman...... dan nama-nama dari Sahabat Nabi lainnya........

Mereka orang-orang syiah jahat memaksa kami untuk menghina-hina Ibunda 'Aisyah dan ketika kami menolak, dipotonglah jari-jari kami....

Wahai saudara-saudaraku.. aku telah menyampaikan hal ini..... yang juga merupakan amanah bagiku sebagai wakil dari mereka Ahlus Sunnah yang tersiksa dan ditindas oleh kekejaman para syiah....

Ya Allah, saksikanlah dan Engkaulah sebaik-baik saksi... hamba telah menyampaikannya......
Wahai saudara-saudaraku Ahlus Sunnah....
aku melihat gadis muda diperkosa....
dia berkata dan bersumpah bahwa dia masih perawan dan menjaga kehormatannya serta menghafal Al-Qur'an....
Lalu dia berteriak dan berkata "Siapa yang akan mengadukan tentang kisah penyiksaanku kepada Rasulullah???!!!"

Dia berkata bahwa setiap laki-laki syiah menikmati dan menyiksanya setiap waktu secara kejam dan brutal....!!!
Dan mereka (orang-orang syiah) turut menghina Rasulullah..!!!

Wahai saudara-saudaraku sekali lg dengarkan.....
Aku telah menyampaikan kekejaman, kebrutalan dan penyiksaan yang mereka (syiah) lakukan..!!
Luka yang aku dapat masih segar....

Karena nama Putraku adalah Umar dan nama Putriku adalah 'Aisyah.....
Disini orang-orang syiah juga membakar anakku yang masih berusia 3 tahun....

Lalu mereka pun mengambil bagian tubuh mayat anak kecil yg telah terbakar dan melihatkannya di depan ayahnya (yaitu aku)....

Ya Allah.... Engkaulah Saksiku....
Ya ALlah... Engkaulah Tuhanku dan Engkaulah Saksiku....
Wahai Kaum Muslimin... adakah disana penolong-penolong untuk saudara-saudara Muslim kalian disini...???

Adakah disana Sang Ibn Taimiyah...??
Adakah disana Shalahuddin Al-Ayyubi...??
Adakah disana Al-Imam Asy-Syafi'ie...???
Untuk menghentikan kejahatan para syi'ah...!!!

Adakah,,,???
......
....
...
..
?


added note

SYI’AH & BUDAYA SYIRIK


Oleh Ustadz Abu Minhal
Sudah menjadi salah satu ciri khas Ahli Bid’ah, mereka berbuat ghuluw (berlebihan) dalam keyakinan-keyakinan (aqidah) yang mereka anut. Begitu pula dengan golongan Syi’ah, mereka tidak lepas dari fakta ini. Di antaranya ialah, ’aqidah mereka yang berhubungan dengan muwalah (loyalitas) terhadap Ahlul Bait (kecintaan terhadap keluarga Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam).[1]

Contoh Cengkeraman Syirik pada Agama Syi’ah
Kaitannya dengan ’aqidah ini (dan ’aqidah-’aqidah mereka lainnya), mereka benar-benar melampaui batasan agama. Hingga memunculkan agama baru, yang sangat berbeda dengan risalah yang diemban Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Karena itu, Syaikh Muhibbuddin al-Khathib rahimahullah[2] menuturkan:

Sangat tidak mungkin menjalin kesepahaman dengan Syi’ah. Karena mereka telah berlawanan dengan seluruh kaum muslimin (Ahli Sunnah) dalam perkara-perkara ushul (prinsipil). Kaum syi’ah belum merasa tenang dengan kaum muslimin, kecuali bila kaum muslimin ikut serta melaknat al-jibt dan thaghut, yaitu Abu Bakr dan ’Umar serta orang (sunni) lainnya sampai sekarang, dan mengumandangkan bara’ah (penentangan) kepada siapa saja yang bukan penganut Syi’ah, walaupun ia termasuk keluarga Nabi…[3]

Sikap ekstrim yang terpatri dalam diri para tokoh dan ulama Syi’ah, telah membawa mereka pada sikap menuhankan sahabat Ali radhiallahu ’anhu. Sehingga untuk mengokohkan ’aqidah syirik ini, mereka pun tanpa malu mengusung sekian banyak riwayat dusta. Mereka mengklaim, bahwa unsur ketuhanan telah menyatu pada diri sahabat yang menjadi menantu Nabi ini.

Misalnya, sifat-sifat Rububiyah (sebagai pencipta, pemberi rizki, pengatur alam semesta dan seterusnya), Uluhiyyah (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi) dan kepemilikan Asmaul-Husna dan Sifat ’Ulya, menurut tokoh-tokoh Syi’ah, sifat-sifat ini ada pada diri sahabat yang menjadi khalifah keempat ini. Sudah tentu, sahabat Ali radhiallahu ’anhu yang mulia berlepas diri dari semua anggapan itu. Mustahil, beliau menempatkan diri pada posisi tuhan yang disembah selain Allah.

Diriwayatkan (dalam riwayat yang dusta) bahwa ’Ali berkata: ”Seandainya Abul Hasan (beliau sendiri) bersumpah di hadapan Allah agar sudi menghidupkan orang-orang yang yang mati dari generasi dahulu dan akhir zaman, niscaya akan dihidupkan.” Lebih fatal lagi, orang-orang Syi’ah meyakini bahwa tanah kuburan Ali memiliki andil dalam turunnya rizki, kesembuhan dan pemberian Allah.[4]

Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, salah seorang ulama terdahulu dari kalangan Syi’ah –semoga mendapat balasan yang sepantasnya dari Allah-, di dalam karangannya Ushul Kafi, ia membuat suatu bahasan, Bab bahwa bumi semuanya milik Imam. Kata Abu ’Abdillah, ”Sesungguhnya dunia dan akhirat milik Imam. Dia meletakkannya di mana pun yang ia kehendaki dan menyerahkannya kepada yang ia kehendaki.”

Dia juga meriwayatkan dari Imam Muhammad al-Baqir: ”Kami adalah wajah Allah. Kami adalah mata Allah. Kami adalah wajah Allah. Dan kami adalah mata Allah di tengah makhluk-Nya.”

Tidak tanggung-tanggung, pengetahuan ilmu ghaib pun dinisbatkan kepada Ja’far ash-Shadiq. Menurutnya, Ja’far ash-Shadiq telah berkata: ”Sesungguhnya aku mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Dan aku mengetahui siapa saja yang di surga dan neraka, dan aku mengetahui kejadian yang telah berlalu dan yang akan datang.”

Lebih jauh, al-Kulaini mengetengahkan beberapa pembahasan dalam Ushul Kafi mengenai ”kehebatan” para imam Syi’ah yang mampu meliputi segala sesuatu. Misalnya dia membahas, bab bahwa para imam mengetahui seluruh ilmu yang ada pada para malaikat, para nabi dan rasul, bab para imam mengetahui kapan akan meninggal dan tidaklah mereka wafat kecuali karena keinginan sendiri, bab para imam mengetahui peristiwa yang sudah berlalu, akan terjadi, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi pada pendangan mereka, bab para imam mempunyai seluruh kitab-kitab (dari Allah), mengetahui dalam berbagai bahasa.

Syi’ah juga mengatakan, bahwa wewenang untuk menghalakan dan mengharamkan juga termasuk hak istimewa para imam Syi’ah. Anggapan seperti itu tentu saja dusta, karena menghalalkan dan mengharamkan ini bagian dari hak khusus bagi Allah Ta’ala.

Al-Kulaini mengungkapkan bualannya: ”Mereka (para imam) boleh menghalalkan apa yang mereka kehendaki dan mengharamkan apa yang mereka inginkan. Tidaklah mereka berkehendak, kecuali pasti dikehendaki oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala.”

Perkataan mereka lainnya yang mengandung syirik, misalnya –menurut mereka- Ali berkata: ”… Akulah al-Awwal, Akulah al-Akhir, Akulah azh-Zhahir, Akulah al-Batin, dan Akulah pemilik bumi.” (Lihat Rijal Kissyi, hal. 137)

Ketika pelanggaran-pelanggaran yang sangat parah sudah merebak, maka tidak mengherankan bila mereka juga terbiasa bersumpah dengan nama Ali. Sebagai misal, kebanyakan ungkapan sumpah mereka berbunyi: ”Wa haqqi wilayati Ali (demi hak kepemimpinan Ali).” Begitu pula penamaan anak-anak mereka dengan nama Abdul-Husain dan Abdul-Hasan pun sudah biasa.

INI LEBIH PARAH LAGI!

Dalam kitab al-Anwarun-Nu’maniyyah, tertulis ungkapan kufur yang dahsyat. Penulis mengatakan: ”Ringkasnya, kami tidak bersatu dengan mereka (Ahli Sunnah) pada satu ilah, nabi dan imam. Sebab, mereka mengatakan bahwa Rabb mereka adalah yang Muhammad adalah Nabi-Nya, dan Abu Bakr sebagai penerus sepeninggalnya. Sedangkan kami (kaum Syi’ah) tidak mengakui Rabb ini, tidak juga kepada Nabi ini. Justru kami mengatakan, sesungguhnya Rabb yang penerus Nabi-Nya adalah Abu Bakr bukan Rabb kami, dan Nabi itu bukanlah nabi kami…”

Jadi, kecintaan buta dan dusta terhadap oarang-orang yang mereka daulat sebagai imam-imam, justru menjerumuskan mereka hingga menamakan sifat-sifat pada diri Ali radhiallahu ’anhu dengan sifat-sifat yang tidak ada yang berhak selain Allah, penguasa alam semesta.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyimpulkan kebiasaan Syi’ah dengan penjelasannya:

Maka, mereka (orang-orang Syi’ah) menjadikan imam-imam mereka sebagai tuhan-tuhan tandingan selain Allah. Mereka ber-istighatsah (memohon pertolongan dalam kesulitan) kepada imam-imam mereka, saat para imam tidak bersama mereka dan setelah kematian mereka, serta di sisi kubur mereka. Mereka (orang-orang Syi’ah) terseret kepada perkara-perkara yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) berupa ibadah-ibadah yang mengandung kesyirikan, yang meniru-niru kaum Nashara.[5]

Hal ini semakin menguatkan pandangan, bahwa Syi’ah merupakan bentuk agama baru yang tidak ada hubungannya dengan Islam sedikitpun. Kitab Ushul Kafi, Anwar Nu’maniyah dan kitab-kitab lainnya yang menjadi rujukan utama Syi’ah, sarat dipenuhi kesyirikan dan kultus individu.

Ulasan ini hanyalah sedikit nukilan, yang diharapkan cukup untuk menyibak tabir kelam ’aqidah agama Syi’ah yang sekarang semakin bergerak agresif di tanah air. Masih banyak ’aqidah mereka yang sangat membuat bulu kuduk bergidik, kecuali bila mereka menganggap keyakinan tersebut sebagai tauhid murni. Apa boleh buat. Justru semakin menguatkan, bila tuhan mereka lain daripada yang lain.[6]

AL QUR’AN MENEPIS PENYIMPANGAN ’AQIDAH SYIRIK (PAGANISME) PADA AGAMA SYI’AH

Seorang muslim akan sangat mudah mengingkari ’aqidah yang jelas-jelas berseberangan dengan nalar dan akal sehat, fitrah yang masih lurus, apalagi ayat-ayat al-Qur’an. Allah berfirman, memberitahukan Dia-lah pemilik alam semesta ini. Tidak ada seorangpun yang menyertai-Nya dalam pengaturan ataupun kepemilikannya. Misalnya dalam ayat:

”Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. al-A’raf/7: 128)

”Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. al-Mulk/67: 1)

Hak penetapan halal dan haram pun juga milik khusus bagi Alah. Rasulullah pun tunduk pada ketetapan-Nya. Perhatikan firman Allah:

”Wahai Nabi,mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah menghalalkan bagimu?” (Q.S. at- Tahrim/66: 1)

Ilmu Allah luas tidak terbatas, meliputi segala sesuatu. Hanya Allah yang mempunyai keistimewaan ini. Pengetahuan manusia, bagaimanapun dia, tetap terbatas. Allah berfirman:

”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Diri sendiri.” (Q.S. al-An’am/6: 59)

Terakhir, dalam al Qur’an, Allah mengancam orang-orang yang menyekutukan apapun dengan Dzat-Nya. Ancaman yang sangat keras, siksaan neraka selama-lamanya bila mati dalam kesyirikan. Allah berfirman:

”Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka.dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorangpun penolong pun.” (Q.S. al maidah/5: 72)

Semoga tulisan ringan ini semakin memantapkan kita tentang bahaya Syi’ah yang semakin gencar melancarkan gerakannya di negeri inni melalui media-media yang mereka miliki. Apalagi sempat muncul wacana yang merilis upaya penggabungan antara Ahlu Sunnah dan Agama Syi’ah oleh sejumlah pihak. Wallahul-musta’an.

Maraji’:

Al-Hujajul-Bahirah, Syaikh Jalaluddin ad-Dawani ash-Shiddiqi, Tahqiq Dr. ’Abdullah Hajj Ali Munib, Cetakan I, tahun 1420H-200M, Maktabah al-Bukhari.
Al-Khuthuthul-’Ariidah, Syaikh Muhibbiddin al-Khathib, cetakan I, 1420H-1999M, Dar ’Ammar Urdun.
Buthlaanu ’Aqaaidisy-Syi’ah, Syaikh Muhammad Abdus-Sattar at-Tunsawi, 1408H, Maktabah Imdadiyyah, Mekkah Mukarramah.
Tanaqudhu Ahlil-Ahwa wal Bida’ fil ’Aqidah, Dr. ’Afaf binti Hasan bin Muhammad Mukhtar, Cetakan I, Tahun 1421H-2000M, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh.
’Ulama’usy-Syi’ah Yaqulun, susunan Markaz Ihyaut-turatsi Ahli Bait.

((Sumber: Majalah As-Sunnah edisi02/tahun XI/1428H/2007M, hal. 50-52, Penulis: Ustadz Abu Minhal))


[1] Kecintaan ini pun hanya sekedar kamuflase untuk menutupi kebusukan hati mereka terhadap kaum muslimin.

[2] Diceritakan oleh sebagian pengajar di universitas Islam Madinah, berita wafat beliau sangat menggembirakan para penganut Syi’ah. Pasalnya, beliau salah seorang ulama yang getol membongkar rentetan kepalsuan, kebohongan dan kekufuran yang sudah melekat erat pada doktrin-doktrin Syi’ah.

[3] Al-Khuthuth al-‘Aridhah, cetakan I 1999M/1420H, Dar Ammar, hal. 37-38

[4] Ushul Kafi (1/440-457). Kitab ini diklaim sekelas dengan kitab Shahih al-bukhari.

[5] Minhajus Sunnah (2/435)

[6] Riwayat-riwayat dari Syi’ah, penulis kutip dari buku-buku referensi


sumber: http://salafiyunpad.wordpress.com/2008/02/25/syi%E2%80%99ah-budaya-syirik/

semoga bermanfaat

IBNU TAIMIYAH

Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Al-Qur'an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa Al-Qur'an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini”
Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan penegasan Al-Qur'an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas....

(Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).

AL BUKHORI

الامام البخارى

.
قال رحمه الله : ماأبالى صليت خلف الجهمى والرافضى

أم صليت خلف اليهود والنصارى

ولا يسلم عليه ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

.
( خلق أفعال العباد :١٢٥
)

Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.
(Imam Bukhori / Kholgul Afail, halaman 125).

IMAM MALIK

االامام مالك

روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سمعت أبا عبد الله يقول :

قال مالك : الذى يشتم اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم

ليس لهم اسم او قال نصيب فى الاسلام.

( الخلال / السن: ۲،٥٥٧
)

Al Khalal

meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”

.
( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )

Begitu pula Ibnu Katsir berkata, dalam kaitannya dengan firman Allah surat Al Fath ayat 29, yang artinya :
“ Muhammad itu adalah Rasul (utusan Allah). Orang-orang yang bersama dengan dia (Mukminin) sangat keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaanNya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, karena bekas sujud. Itulah contoh (sifat) mereka dalam Taurat. Dan contoh mereka dalam Injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya (yang kecil lemah), lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang-orang yang menanamnya. (Begitu pula orang-orang Islam, pada mula-mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat), supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal salih diantara mereka”.

Beliau berkata : Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi SAW, adalah Kafir.
Beliau berkata : “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama.

(Tafsir Ibin Katsir, 4-219)

Imam Al Qurthubi berkata : “Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”.

(Tafsir Al Qurthubi, 16-297)

bagi mereka yg mengaku cinta ahlul bait (terutama shbt ali) mk lakukanlah sbgmn ali bn abi tholib lakukan,yaitu:

Ali bin Abi Thalib radhi- yallahu ‘anhu mengancam untuk mencambuk orang yang mengutamakan diri-nya di atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pendusta.

Tidak didatangkan kepadaku seseorang yang mengutamakan aku diatas Abu Bakar dan Umar, kecuali akan aku cambuk dengan cambukan seorang pendusta.
Maka ketika itu seorang yang mengatakan beliau lebih utama dari Abu Bakar dan umar dicambuk delapan puluh kali cambukan. (Majmu’ Fatawa juz 4 hal. 422; Lihat Imamatul ‘Udhma, hal. 313).


Khalifah Ali (imam pertama mereka) Radhiyallahu ‘anhu berkata:

وسيهلك في صنفان: محب مفرط يذهب به الحب إلى غير الحق، ومبغض مفرط يذهب به البغض إلى غير الحق ، وخير الناس في حالا النمط الاوسط، فالزموه والزموا السواد الاعظم فإن يد الله على الجماعة.

Akan binasa tentang aku dua kelompok: (pertama) kelompok yang mencintai secara berlebihan sehingga kecintaannya membawa kepada yang tidak benar, dan kelompok yang membenci, yang kebenciannya membawa kepada yang tidak benar. Sebaik-baik manusia adalah yang moderat (tengah/adil) maka ikutilah ia, ikutilah kelompok terbesar (maksudnya waktu itu yaitu para sahabat dan tabi’in) karena tangan Allah ada di atas jama’ah.” (Nahjul Balaghah, 2/8)

Kelompok binasa pertama karena kecintaannya yang berlebihan adalah rafidhah. Sesungguhnya cintanya Rafidhah kepada Ali seperti cintanya orang Kristen kepada yesus Isa putra maryam.

Kecintaan yang membawa kesesatan dan kebinasaan!!

Maka ikutilah ahlussunnah yaitu para sahabat dan tabi’in, kelompok islam terbesar yang menjadi mainstream, yang menjadi warisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam al-Quran dan as-Sunnah.

Khalifah Ali juga berkata:

ان معاويه خير لي من هؤلاء الذين يزعمون لي شيعة


“Sesungguhnya Muawiyah lebih baik bagiku dari pada mereka yang mengaku sebagai syiahku.” (al-Ihtijaj, 2/290)

Ali juga berkata:

لوددت والله أن معاوية صارفني بكم صرف الدينار بالدرهم فأخذ مني عشرة منكم وأعطاني رجلاً منهم


Saya berharap andai saja Muawiyah tukar menukar dengan saya seperti menukar dinar dengan dirham, sehingga dia mengambil dariku 10 orang dari kamu dan dia memberiku satu orang dari mereka. (Nahjul Balaghah)

Ali Radhiallahu ‘Anhu berkata:

إن أهل إصفهان لا يكون فيهم خمس خصال : السخاوة والشجاعة والامانة والغيرة وحبنا أهل البيت

sesungguhnya penduduk Ashfahan tidak ada pada diri mereka 5 perkara: dermawan, berani, amanah, cemburu dan mencintai kami ahluil bait. (biharul anwar 21/301 riwayat 32)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan ucapan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut:

Sungguh aku pernah berdiri di kerumunan orang yang sedang mendoakan Umar bin Khathab ketika telah diletakkan di atas pembaringannya. Tiba-tiba seseorang dari belakangku yang meletakkan kedua sikunya di kedua pundakku berkata: “Semoga Allah merahmatimu dan aku berharap agar Allah menggabungkan engkau bersama dua shahabatmu (Yakni Rasulullah
dan Abu Bakar) karena aku sering mendengar Rasulullah ? bersabda: ‘Waktu itu aku bersama Abu Bakar dan Umar…’ ‘aku telah mengerjakan bersama Abu Bakar dan Umar…’,
‘aku pergi dengan Abu Bakar dan Umar…’. Maka sungguh aku berharap semoga Allah menggabungkan engkau dengan keduanya. Maka aku menengok ke belakangku ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib.

Hadits-hadits dari Ali bin Abi Thalib ini merupakan sebesar- besar dalil yang membuktikan kedustaan kaum Syi’ah Rafidlah yang mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma.


Hasan ibn Ali Radhiallahu ‘Anhu (Imam Kedua) berkata:

أرى والله أن معاوية خير لي من هؤلاء يزعمون أنهم لي شيعة ابتغوا قتلي وانتهبوا ثقلي وأخذوا مالي، والله لئن آخذ من معاوية عهداً أحقن به دمي واومن به في أهلي، خير من أن يقتلوني فتضيع أهل بيتي وأهلي


“menurutku demi Allah, Mu’awiyyah itu lebih baik bagiku dari pada mereka yang mengaku menjadi syiahku, mereka ingin membunuhku, merampok barang-barangku dan merampas hartaku, demi Allah kalau aku mengambil perjanjian dari Muawiyah agar aku bisa melindungi darahku dan mengamankan keluargaku itu lebih baik dari para mereka (para syiah) itu membunuhku dan menelantarkan ahli baitku dan istrikuu.” (al-Ihjtijaj litthabarsi 2/290)...

Imam al-Baqir Radhiallahu ‘Anhu berkata:

لو كان الناس كلهم لنا شيعة لكان ثلاثة أرباعهم لنا شكاكاً والربع الآخر أحمق


“Seandainya semua manusia adalah syiah (pendukung) bagi kami niscaya 3/4 dari mereka ragu-ragu pada kami dan 1/4 sisanya adalah tolol.” (sumber: Rijal al-Kasysyi, h. 179).

Imam Ja’far as-Shadiq berkata:

ما أنزل الله من آية في المنافقين إلا وهــي في من ينتحـــل التشيع


Tidak ada ayat satupun yang Allah turunkan tentang orang munafiq melainkan ia ada pada orang yang bermadzhab tasyayyu’” (Rijal Kasysyi hal. 154; ungkapan yang sama diriwayatkan dari abul hasan dalam Raijal Kasysyi hal. 254))

Imam Ja’far juga berkata:

إن ممن ينتحل هذا الأمــر ليكـذب حتى إن الشيطان ليحتاج إلى كذبه


Sesungguhnya diantara orang yang meyakini perkara ini (yaitu bertasyayyu’) melakukan dusta hingga setan saja perlu kepada kedustaannya.” (Al-Rawdhah minal Kafi hal 212)


Ja’far as-Shadiq rahimahullah berkata:

إن ممن ينتحل هذا الأمر لمن هو شرٌّ من اليهود والنصارى والمجوس والذين أشركوا


sesungguhnya diantara orang yang mengikuti ini sebagai budaya ada yang lebih jahat dari yahudi, nashrani, orang majusyi dan orang-orang yang syirik” (Rijal al-Kasysyi 252)

Imam abul Hasan Musa ibn Ja’far al-Kazhim (imam ketujuh), Radhiallahu ‘Anhu berkata;

” لو ميزت شيعتي لم أجدهم إلا واصفة ولو امتحنتهم لما وجدتهم إلا مرتدين ولو تمحصتهم لما خلص من الألف واحد ولو غربلتهم غربلة لم يبق منهم إلا ما كان لي ، إنهم طال ما اتكؤا على الأرائك ، فقالوا : نحن شيعة علي ، إنما شيعة علي من صدق قوله فعله
” .

“Seandainya aku bedakan (aku pilah-pilah) syiahku niscaya aku tidak menemukan mereka kecuali washifah (namanya/sifatnya saja- wallahu a’lam) , dan kalau aku uji niscaya aku tidak mendapati mereka kecuali murtad, dan kalau saya benar-benar menyeleksi mereka niscaya tidak ada yang lolos dari seribu orang seorangpun, dan kalau aku ayak (saring) mereka niscaya tidak tersisa dari mereka kecuali apa yang untukku, sesungguhnya mereka cukup lama duduk di kursi goyang (ongkang-ongkang kaki), lalu mereka berkata: kami adalah syiah ‘Ali, sesungguhnya syiah ‘Ali adalah orang yang (jujur) ucapannya sesuai dengan kelakuannya.” (sumber: al-Rawdhah minal-Kafi lilkulaini, 8/228).

Imam Ridha (imam kedelapan) Radhiallahu ‘Anhu berkata:

إن ممن ينتحل مودتنا أهل البيت من هو أشد فتنة على شيعتنا من الدجال


Sesungguhynya diantara orang yang mengklaim (bertasyayyu’) mencintai kami ahlul bait ada orang yang lebih dahsyat fitnahnya atas syiah kami dari pada Dajjal.” (sumber: shifat as-Syi’ah karya as-Shaduq)

Benar sekali, Ali mencintai Abu Bakar Umar tetapi syiah memusuhi keduanya.

Ali menghancurkan kuburan tetapi syiah malah membangun kuburan.

Ali tidak mut’ah malah syiah mut’ah.

Ali tidak pernah berkeyakinan bahwa dirinya ditunjuk jadi khalifah Rasul tapi syiah mengkafirkan Abu Bakar dan Utsman dengan alasan katanya mereka merampas hak khilafah milik Ali.

Ali mencintai Aisyah dan Hafshah tapi syiah malah melaknat. Nau’udzu billah min dzalik

Dan orang syiah mengundang imam Husein ke Kufah untuk dibaiat ternyata mereka bunuh. Dan kini mereka meratap pura-pura menangis untuk menuntut balas. Padahal mereka tidaklah menuntut balas kecuali pada diri mereka sendiri....

source :

http://www.gensyiah.com/syiah-di-mata-para-imam-ahlul-bait.html

***

tidak ada yg suka mencela para sahabat dan mengungkit2 kesalahan mereka bahkan tidak tanggung-tanggung mereka dilaknat dan dikafirkan kecuali BEGUNDAL SYI'AH dan yg sepaham dgn mereka yg sama-sama KAFIR-nya

Nabi bersabda: “Barangsiapa mencela sahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, malaikat dan seluruh manusia”

[Hadits Riwayat Thabrani]

kasihan agama syi'ah sekte Yahudi ini, imam2 mereka saja melaknat nya, lalu mereka mencoba menafsirkan Al-Qur'an sekehendak hawa nafsunya. kalau memang mereka jujur, mana al-qur'an mereka yg 17000 ayat itu? disembunyikan Imam fiktip yg merupakan legenda dan dongeng2 anak2 sebelum tidur. Imam khomeini mesum (mereka bilang ma'sum) yg melakukan sesuatu yg dilaknat Allah yg merupakan kejahatan seks sebagaimana kaum Luth. ngaku aja agama syi'ah nggajk usah ngaku2 Islam, apa tidak malu agama syi'ah tak punya kitab suci (Al-Qur'an kan yg diturunkan pada masa sahabat dan dikumpulkan sahabat) yg mereka tuduh kafir????? 


TUNGGU GUA, SAMPE DAJJAL DATANG, NAH DAJJAL ITU IMAM MEREKA...


Shobigh bin ‘Isl tiba di Madinah dengan membawa beberapa kitab. Lalu mulailah dia bertanya tentang ayat-ayat Qur’an yang mutasyabih (samar-samar) –untuk menimbulkan keraguan-. Lalu sampailah berita itu pada Umar, sehingga beliau mengutus orang untuk memanggilnya, dan beliau telah mempersiapkan pelepah kurma untuknya. Manakala dia masuk menghadap beliau dan duduk, bertanyalah beliau padanya,”Siapakah kamu?” Dia berkata,”Saya Shobigh.” Umar berkata,”Aku Umar, hamba Alloh.” Lalu beliau mendekatinya seraya memukulinya dengan pelepah kurma tadi hingga melukai kepalanya. Darahpun mengalir di wajahnya. Maka diapun berkata,”Cukup wahai Amirul Mukminin, demi Alloh, apa yang dulunya kudapati ada di kepalaku telah hilang.” (Al Ibanatul Kubro/Ibnu Baththoh/2/hal. 309/shohih)

kata orang syi'ah (karena tabiatnya benci dengan para sahabat) dalam menanggapi kisah ini berkata : "tanya kok dipukul, aneh"

Apakah kalian mendapati riwayat bgmn ketika dg keyaqinan penuh Ibnu Saba' [Laknat ALLOH seluruh makhluq yg bisa melaknat semoga penuh untuknya] mengaku sbg Rosul , 'Aliy Rodhiallohu 'anhu sbg ALLOH{na'udzubillah tsumma na'udzubillah!!!], lalu dibuang ke negeri yg lain setelah hampir dibakarnya, lalu sepuluh org yg ber'itiqod seperti itu tak mau bertaubat yg akhirnya dibakar dlm lubang ......?

hanca 27 10 11

Semua Manusia Adalah Anak Zina Kecuali Orang Syiah!!!


Menurut orang Syiah, anda, saya dan seluruh manusia yang bukan orang Syiah adalah anak-anak zina…..

Bukan hanya Ahlus Sunnah, tapi seluruh manusia adalah anak-anak zina kata mereka.
Ini merupakan tuduhan kejam kepada kita, mereka menuduh kita seperti itu hanya karena kita bukan orang Syiah….wallahul musta’an

Berikut ini riwayatnya…

Dari Abu Hamzah, dari Abu Ja'far alaihis salam, ia berkata: saya katakan padanya: Sesungguhnya sebagian sahabat kita berdusta dan menuduh orang-orang yang menyelisihi mereka (maksudnya; menuduh mereka telah berzina), ia berkata kepadaku: menahan diri dari mereka lebih bagus, kemudian berkata: Demi Allah wahai Abu Hamzah, Sesungguhnya manusia seluruhnya adalah anak zina kecuali syiah kita..!!!
lihat Kitab Ar-Raudhah Min Al-Kafi, Juz 8, hal 285

Bagi yang ingin membuktikannya, silahkan membaca langsung hasil scan kitab ulama mereka di bawah ini....

(LPPIMakassar.blogspot.com)

Acara Ramah tamah se-syiah-sepermut'ah-an membahas "perburuan Rubah"


Bashar Al-Ashad adalah sunni alawiyin...yang di pengaruhi syion untuk kepentingan politik dajjal Iran

Kaum Syi’ah Bersatu Mendukung Rezim Biadab Syi’ah Nushairiyah Alawiyah Suriah
March 17, 2012 by alfanarku

Setelah Republik Syiah Iran dan milisi Syiah Hizbullah Libanon secara terang-terangan memberikan dukungan politik, ekonomi, militer dan intelijen kepada rezim Nushairiyah Bashar Al-Assad karena faktor kesamaan ideologi, kini dengan alasan yang sama, dukungan serupa juga disuarakan dan diberikan oleh kelompok pemberontak Syiah Houti di Yaman, salah satunya dengan mengirimkan petempurnya untuk membantu rezim Al-Assad dalam membantai ribuan Muslim Sunni di Suriah.

Sebagaimana dilansir Yemen Post (19/2/2012) seorang pengkhotbah dari kelompok pemberontak Syiah Houthi di Sana’a Yaman selama khotbah Jumat lalu telah menyerukan pengikutnya untuk mendukung rezim Al-Assad dengan uang dan senjata, seraya menyatakan bahwa rezim Bashar Al-Assad saat ini tengah memerangi Yahudi dan para pengkhianat sebagai refensi bagi Muslim Sunni.

Laporan-laporan berita Yaman mengatakan pada Ahad bahwa kelompok pemberontak Syiah Houthi mengirim puluhan petempurnya untuk berperang di Suriah di sisi rezim Al-Assad.

Mereka mengatakan para petempur Syiah tersebut dikirim bawah kerahasiaan yang ketat, menunjukkan bahwa kelompok Houthi mengadopsi pendekatan yang sama dengan milisi Syiah Hizbullah Libanon dan Iran yang khawatir dengan pemakzulan Bashar Al-Assad.

Sebuah surat kabar Kuwait, Alsyiasa menegaskan bahwa pemberontak Syiah Houthi merekrut warga Syiah Yaman dengan imbalan tiga ribu dolar AS per bulan.

Para analis Yaman mengatakan sikap Syiah Houthi mencerminkan posisi yang sama dengan Republik Syiah Iran yang berdiri disamping Al-Assad dalam membunuh Muslim Sunni di Suriah.

..kelompok pemberontak Syiah Houthi mengirim puluhan petempurnya untuk berperang di Suriah di sisi rezim Al-Assad..

Para agen dari Garda Revolusi Iran dan milisi Syiah Hizbullah tersebut membantu Presiden Suriah Bashar Assad dalam penumpasan brutal pengunjuk rasa yang menuntut pemecatan Bashar Assad yang melakukan pembantaian terhadap warga Muslim Sunni Suriah.
15.000 tentara Al-Quds dikirim Iran ke Suriah

Beberapa waktu lalu laporan media massa mengungkapkan bahwa Teheran telah mengirimkan 15.000 anggota brigade Al-Quds yang merupakan salah satu pasukan khusus dalam Garda Revolusi Iran.

Laporan itu mengutip dari seorang tokoh Dewan Nasional Suriah yang tidak ingin diungkapkan identitasnya bahwa komandan brigade Al-Quds Iran, Brigadir Jendral Qasim Sulaimani sejak beberapa waktu terakhir telah berkantor di Damaskus dan menjadi instruktur lapangan bagi tentara rezim Suriah, milisi Syi’ah Shabihah dan pasukan khusus Iran dalam membantai para demonstran sipil.

Sementara itu situs Ash-Shahafiyin al-Akhdhar Iran menulis, “Apa yang hari ini ramai dibicarakan tentang pengiriman pasukan khusus brigade Al-Quds sebenarnya telah berlangsung sejak sembilan bulan yang lalu. Kami telah mengisyaratkan hal itu dalam laporan kami dari para ahli pada tanggal 17 Mei 2011 dan kami telah membongkar fakta pemindahan salah satu markas Garda Revolusi ke Damaskus.”

Brigade Al-Quds Iran dilengkapi dengan persenjataan lengkap. Mereka diangkut dengan pesawat sipil Iran sesuai jadwal penerbangan rutin Teheran-Damaskus, untuk mengelabui para wartawan dan dunia internasional.

Beberapa waktu yang lalu Sebuah kelompok oposisi Suriah “Tentara Bebas Suriah” telah merilis sebuah video yang menunjukkan apa yang mereka katakan tujuh warga Iran, termasuk lima anggota Pengawal Revolusi, yang ditangkap di kota Homs.

Video itu menunjukkan dokumen perjalanan dari tawanan, beberapa di antaranya tampak berbicara dalam bahasa Persia.

Kelompok oposisi bersenjata Suriah, yang menyebut dirinya “Brigade Al-Faruq Tentara Bebas Suriah,” juga merilis pernyataan yang menyerukan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamanei untuk mengakui dalam kata-kata secara eksplisit dan jelas bahwa adanya unsur Garda Revolusi Iran di Suriah dalam rangka untuk membantu rezim Assad menindak keras rakyat Suriah.

Iran Sumbang Rp. 9 Triliun untuk Suriah.

Untuk membantu Suriah dalam mengurangi tekanan dan sanksi dari negara-negara Barat, Iran memberikan US$ 1 miliar atau sekitar Rp 9 triliun kepada negara tersebut, belum lama ini. Menurut dokumen dari kantor Presiden Suriah, Iran dikabarkan membantu Suriah yang menghadapi tekanan embargo minyak internasional dan tindakan pembatasan lain tentang wisata dan perdagangan melalui bank sentral.

Posisi Suriah sangat penting bagi Iran, karena melalui rezim suriah ini Iran bisa memelihara dan membesarkan “anak”-nya, milisi Syi’ah yang bertengger di wilayah Lebanon selatan yaitu milisi Syi’ah Hizbullah yang sekarang hampir menguasai Lebanon untuk menjalankan misi proyek Syi’ah Safawid-nya, jika rezim Bashar Al-Assad yang syi’ah Alawite Nushairiyah ini jatuh dan kemudian dikuasai oleh kaum muslimin Ahlus Sunnah, maka akan bisa dipastikan pengaruh Syi’ah di wilayah tersebut akan meredup dan bahkan cepat atau lambat akan lenyap dari wilayah Syam. Inilah alasan mengapa mereka berusaha sekuat tenaga membantu rezim biadab Suriah ini agar tidak tumbang.

Wahai kaum muslimin segera bangunlah dari tidur kalian!, saat ini kaum muslimin Suriah sedang mengalami hari-hari yang sangat buruk, ditindas dan dibantai oleh rezim Bashar Al-Assad yang biadab, rezim syi’ah ekstrim yang dibantu dengan segala daya oleh berbagai komunitas Syi’ah internasional. Rezim ini telah melakukan pembantaian secara sistematik kepada rakyat muslimin di Suriah, begitu banyak bukti yang bisa kita dengar, baca dan bahkan kita tonton di media-media seperti televisi dan internet yang menggambarkan kekejaman rezim ini.

Mari kita terus berdo’a semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kekuatan kepada kaum muslimin Suriah yang sedang terus berjuang, semoga Allah segera memberikan kemenangan. Amin.

Dari berbagai sumber.

http://alfanarku.wordpress.com/2012/03/17/kaum-syiah-bersatu-mendukung-rezim-biadab-syiah-nushairiyah-alawiyah-suriah/

Arsip Blog